Sunday, May 20, 2012

Foto Bugil Itu Penting Buat Perempuan?

APA betul potret diri dalam keadaan bugil itu penting buat perempuan? Mengapa? Apa benar karena dorongan sifat eksibisi perempuan, sehingga keinginan membuat lawan jenisnya terangsang menjadi begitu penting? Kalau memang demikian, berarti kemajuan teknologilah yang telah membuat 'obsesi perempuan' itu laksana kuda dilepaskan dari kandangnya. Dan di luar kandang, 'para koboi' tentu saja menyambut dengan gembira.
Faktanya, foto-foto setengah bugil atau foto topless, bahkan juga yang polos tanpa apa-apa, akhir-akhir ini banyak bermunculan ke publik. Entah disengaja atau tidak, foto-foto tersebut terunggah dan langsung menyebar dengan cepat lewat media internet. Jadi, teknologilah yang telah membuat dunia perbugilan mencapai puncak kegilaannya.

Sehingga, beberapa tahun terakhir ini, foto topless atau bugil, seolah telah menjadi hal yang wajar untuk dilakukan dengan menggunakan ponsel pribadi. Dan pelakunya, rata-rata remaja tanggung, atau aktris pendatang anyar.
Kebanyakan, potret diri bugil itu dibuat dengan alasan sebagai koleksi pribadi, ya pastinya tanpa ada niatan buat menyebarkan. Tapi celakanya, kelalaian atau kekurang-hati-hatian dalam menyimpan data rahasia itu, telah berakibat foto bugil itu terekspos ke publik dan dikonsumsi penikmat internet.
Terakhir, foto topless mirip artis Faby Marcelia menyebar di dunia maya dan bikin heboh jagat aktris dan publik dalam negeri. Dia pun buru-buru membantah kalau potret topless tersebut adalah dirinya.
Tak bisa disangkal, bahwa meningkatnya penggunaan telepon pintar atau smartphone berkamera, telah membuat banyak selebriti menggunakannya untuk memotret diri sendiri. Dan itu bukan hanya di Indonesia, karena potret bugil di depan kamera, khususnya telepon pintar, juga dilakukan oleh masyarakat dunia.
Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Nevada, Amerika Serikat, Marta Meana, seperti dikutip dari dailymail.co.uk, medio Mei 2012 lalu, mengatakan, berbagi foto diri dalam keadaan telanjang sudah disadari dari keinginan otak atau pikiran pribadi.
"Merasa diinginkan itu sangat merangsang bagi perempuan," ujarnya.
Dia mengatakan, perempuan merasa penting menunjukkan daya tarik seksualnya serta kemampuan merangsang pasangannya. Dalam penelitian teranyar, lebih dari setengah dari fantasi seksual perempuan mencerminkan keinginan untuk bisa menggiurkan bagi laki-laki.
Yang gawatnya, bahkan, hasil survei menunjukkan bahwa 47 persen perempuan mengungkapkan mereka berfantasi sebagai penari striptis, dan 50 persen berkhayal untuk memuaskan lebih dari satu orang.
Selain itu, Editor of Springer's Focus on Sexuality Research book series, menegaskan, penyebaran foto telanjang lebih banyak menggunakan media sosial, misalnya Facebook dan situs jejaring sosial lain.
"Perilaku ini juga muncul pada pria," katanya.
Menurut Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia, Tri S. Hadi, sukanya orang memotret diri, terutama topless di kalangan remaja, lebih karena pengaruh atau tekanan orang lain, terutama dari pria yang sudah dewasa.
"Masalahnya bukan di remaja putri saja, tetapi pada masyarakat yang lebih luas," katanya, dalam pesan singkat pada merdeka.com.