Wednesday, March 7, 2012

Impian Bocah Penjaja Bakso

APA impian Anda hari ini? Bisa beli Smartphone Galaxy S4? Atau mau ganti mobil dengan yang lebih baru? Atau... cuma mau jalan-jalan ke mal dan belanja sedikit, lalu makan di kafe atau restoran? Apa pun impian Anda, bersyukurlah, karena Anda masih diberi kesehatan, masih diberi rejeki untuk bisa mewujudkan impian itu. Dan impian, memang berbeda pada setiap orang, tergantung pada kondisi diri dan hidupnya.Orang yang punya uang sangat banyak, tentu impiannya sangat mahal nilainya. Sebaliknya, yang uangnya pas-pasan impiannya juga pasti sebatas yang menurutnya ia mampu capai. Hanya orang nekad yang memimpikan sesuatu yang sangat jauh dari jangkauannya, yang hanya mungkin tercapai berkat pertolongan Tuhan yang sangat besar atau mukjizat, sehingga impian itu bisa diraihnya. Namun begitu, kalau kita percaya kekuasaan Tuhan, maka kita harus yakin bahwa segala sesuatu bisa saja terjadi, semustahil apa pun kemungkinannya.

Contoh yang nyata. Masih ingat dengan Darsem? Itu lho, TKW yang lolos dari hukuman pancung di Arab Saudi, karena membunuh majikannya yang mau memperkosanya. Nah, dia mencari nafkah sampai negeri yang jauh, nyaris dinodai kesucian dirinya, dan terpaksa membunuh. Apa impiannya? Pasti sekitar mengubah nasibnya, agar tak lagi miskin, punya rumah bagus, uang yang banyak, dan perhiasan buat dirinya.
Mukjizat Tuhan, Darsem diselamatkan dari hukuman pancung dan juga dari membayar denda yang nilainya Rp. 4,7 milyar, dan malah mendapat sumbangan sebesar Rp. 1,259 milyar. Dia sendiri tak pernah menyangka, mungkin memimpikannya juga tidak, bahwa dia akan bisa mendadak jadi milyarder begitu.
Namun bocah perempuan berusia 7 tahun ini, punya impian yang besar di usianya, yaitu dia ingin bisa membeli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah, sebab miliknya sudah rusak. Memang cuma sepatu dan tas yang diingininya. Tapi dia ingin bisa membelinya dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Karena ia sadar, orangtuanya belum tentu mampu memenuhi keinginannya itu.
Maka, setiap pulang sekolah, ia berkeliling kampung menjual bakso yang dia ambil dari juragan bakso, dengan upah Rp. 2.000 kalau habis dan Rp. 1.000 saja kalau tak habis. Dengan menjinjing termos besar berisi kuah bakso di satu tangannya, dan ember plastik berisi mangkok, sendok, sendok kuah, dan perlengkapan bakso lain, di tangannya yang lain, dia tertatih-tatih menjelajahi jalanan kampung yang naik turun menyiksa kakinya. Beban yang dijinjingnya itu pasti terlalu berat buat anak seumur dia.
Namanya Siti, dia bocah yatim yang berjuang untuk bertahan hidup bersama ibunya, setelah ayahnya meninggal dunia. Ibunya hanya seorang buruh tani di sawah milik orang lain, yang kadang mendapat upah langsung, tapi terkadang dijanjikan akan mendapatkan bagi hasilnya bila panen. Praktis, kalau Siti tidak mendapat uang dari berjualan bakso, dan ibunya juga tak dapat bayaran langsung, mereka akan kesulitan untuk membeli beras buat makan. Bisa jadi, mereka harus berpuasa karena tiada yang bisa dimakan.
Dalam kondisi kekurangan makan dan buruknya asupan gizi, gadis kecil itu dengan penuh kegigihan terus berjualan bakso, berkeliling kampung. Kalau ada yang membeli, ia merasa sangat beruntung. Maka ia layani dengan sepenuh hati. Dan kemudian, sambil menunggu si pembeli selesai menikmati baksonya, ia berkali-kali menelan ludah karena sangat ingin bisa mencicipi bakso itu, tapi ia tak pernah mampu membelinya. Bayangkan, dia menjual bakso yang ia sendiri belum pernah mencicipi seperti apa rasanya!
Usai berkeliling kampung, sekitar 4 jam, dia kembali ke juragan bakso dan menyerahkan hasil kerjanya hari itu. Kalau dia lagi beruntung, dagangannya habis, dia akan pulang membawa uang Rp. 2.000. Namun kalau lagi kurang beruntung, ya cuma Rp. 1.000. Tapi setidaknya, ada uang yang dia hasilkan. Siapa tahu cukup untuk membeli bahan makanan.
Tiba di rumah, seperti biasanya, ia menemukan rumah yang kosong, karena ibunya belum pulang dari sawah. Dan pastinya, tidak juga ada makanan yang bisa dimakannya. Kalau dia lagi ingin makan kangkung, maka ia pergi ke rumah tetangganya, minta izin buat memetik kangkung milik tetangganya itu. Kalau diizinkan, maka bergembiralah dia turun ke empang dan memetik kangkung secukupnya.
Petang hari, ibunya pulang dari sawah. Siti menyerahkan uang yang menjadi penghasilannya hari itu. Ia senang ibunya telah hadir kembali di sisinya, dan ia bangga bisa membantu ibunya mencari nafkah, meski hanya seribu atau dua ribu rupiah. Ibunya kemudian menanak nasi dan merebus kangkung dengan sedikit garam. Dan malam itu, mereka berdua menikmati rejeki yang mereka peroleh dengan penuh rasa syukur. Sepiring nasi dan sayur kangkung hanya bergaram di tempatkan di piring seng tua, dan lalu disantap berdua. Itulah salah satu menu rutin mereka. Beruntung sekali kali kalau mereka bisa membeli ikan asin untuk lauknya, tapi sangat jarang terjadi.
Siti, bocah perempuan 7 tahun, yang semestinya punya waktu buat bermain dan belajar, harus berjuang membantu orangtuanya untuk mencari nafkah. Berkeliling kampung dengan kondisi jalan naik turun, menjinjing termos dan ember yang berat selama sekitar 4 jam, hanya untuk memperoleh uang seribu atau dua ribu rupiah, dan ketika pulang ia tak menemukan makanan atau pun orangtuanya, di rumahnya yang kecil dan berdinding lapuk serta beratap bocor itu.
Ia kelelahan dan lapar, dan kesepian menunggu ibunya pulang. Dan terus seperti itu keadaan yang didapatnya dalam hidupnya dari hari ke hari. Dia sering merasa rindu kepada ayahnya. Terutama kalau mendengar teman-temannya telah mendapat kiriman dari ayahnya yang bekerja di kota. Dulu, dia sering bertanya kepada ibunya, kapan dia juga mendapat kiriman dari ayah? Namun belakang ini tidak lagi, setelah ia paham bahwa ayahnya telah meninggal dunia dan tak mungkin akan bisa memberinya apa-apa lagi.
Rasa rindu dan cintanya kepada ayahnya membuat bocah perempuan itu sering mengajak ibunya untuk berziarah ke makam ayahnya, yang tak memiliki batu nisan kecuali sebatang pohon kelapa sebagai penanda. Dan Siti membersihkan pusara ayahnya dari sampah yang nyaris menutupinya. Di sanalah mereka berdua selalu berdoa, sambil menangis, untuk almarhum dan untuk mereka berdua. Dan Siti, memohon kepada Tuhan, agar dirinya selalu diberi kesehatan supaya bisa tetap bersekolah dan mengaji.
Dan impian Siti untuk bisa membeli sepatu serta tas buat menggantikan sepatu dan tas sekolahnya yang telah rusak, akankah tercapai? Tuhan mendengar doa mereka yang meminta kepada-Nya, dan selalu punya cara buat mengabulkannya....