Wednesday, August 31, 2011

Minta Maaf atau Bangkrut?

Masih perkara maaf-maafan. Allah mengingatkan kepada umat manusia akan perkara yang pasti bakal banyak terjadi di akhirat, khususnya kepada mereka yang taat kepada-Nya, namun lalai pada suatu perkara yang dianggap manusiawi – padahal itu adalah hasil tipu daya iblis yang amat sukses (karena sangat kita gemari). Perkara itu ialah suatu kebangkrutan yang menyakitkan di waktu panen. Tepatnya begini: Kita sudah bersusah payah beribadah mengumpulkan amal baik dan pahala, selama hidup di dunia, tapi di akhirat tahu-tahu semuanya itu harus kita serahkan kepada orang lain. Walah, kok gitu? Ya, karena kita harus membayar hutang kepada orang itu. Hutang yang selama ini kita anggap sepele, yang bisa jadi tidak pernah kita sadari. Hutang yang disebabkan karena kita telah berbuat zalim kepadanya, di dunia, dan kita tak pernah meminta maaf kepadanya.

Kesimpulannya, nasib kita bakal “celaka tigabelas” karena perkara meminta maaf ini. Dan hanya karena perkara sepele begitu! Eit, tunggu dulu! Sepele? Ya, bagi orang yang mementingkan kehidupan akhirat, meminta maaf adalah perkara sepele. Tapi buat mereka yang menganggap dunia adalah segalanya, sehingga gengsi merupakan ukuran yang diagung-agungkan, maka meminta maaf bisa jadi seperti menyerahkan kepala untuk dipancung. Memangnya enak?
Pokok masalahnya itu ya seperti hutang-piutang pada umumnya. Kalau kita berhutang, ya kita harus membayar, atau debt collector akan menjadikan hari-hari kita sarat horor karena intimadasinya yang bengis. Begitu juga dalam urusan ini. Jika kita berbuat salah, menzalimi seseorang – tak peduli dia tahu atau tidak, karena kezaliman kita itu sama sekali tak merugikannya secara material misalnya, maka kita tetap harus melakukan pengakuan dosa kepadanya dan meminta maaf.
Pengakuan dosa dan minta maaf? Wah, apa harus begitu? Ya, karena kalau cuma minta maaf, itu tidak menunjuk pada suatu kesalahan tertentu – yang bisa jadi merupakan dosa besar yang bisa bikin kita bangkrut di akhirat. Seperti membayar rekeninglah, maka kita harus menetapkan, rekening mana yang akan kita bayar. Begitu juga dalam hal meminta maaf. Karena diakui atau tidak, banyak sekali perbuatan salah yang kita lakukan dari hari ke hari. Jadi, kalau kita bersalah karena memfitnah, ya kita harus bilang bahwa kita telah memfitnah dan minta maaf karena sudah berbuat begitu. Juga kalau kita suka menggosipkan aib orang lain. Maka kita harus mengakui perbuatan itu kepada yang kita gosipkan serta meminta maaf.
Sebaiknya kita jangan menganggap enteng perkara ini, karena Allah sudah memperingatkan, dan ini pasti benar, bahwa di akhirat nanti akan sangat banyak orang yang mengalami kebangkrutan amal baik karena perkara ini; karena ghibah alias gosip. Sebab yang namanya gosip itu, sangat dekat dengan fitnah – dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Jadi, kalau diibaratkan dengan tindak kekerasan – maka ghibah adalah seperti kita memukuli orang sampai babak belur, hampir mati bahkan tak jarang sampai mati, padahal orang itu sama sekali tak punya salah pada kita. Nah, untuk perbuatan keji seperti itu, sebutan apa yang paling layak buat disandangkan kepada kita? Pembunuh? Oho, itu terlalu ringan. Karena apa yang telah kita lakukan adalah jauh lebih jahat, lebih keji, dari sekadar membunuh.
Oleh karena itu, Allah menetapkan bahwa setiap pengghibah akan membayar perbuatanya itu dengan menyerahkan amal baiknya kepada orang yang dighibahnya. Dan kalau si pengghibah itu ternyata tak punya amal baik, maka ia akan menanggung amal buruk yang dimiliki oleh orang yang telah dighibahnya. Celaka betul, dah...!
Jadi, mumpung masih bulan Syawal – bulannya untuk saling bermaafan, mari kita meminta maaf kepada mereka yang pernah kita zalimi dan memaafkan mereka yang pernah menzalimi kita. Kalau kita tak mau memaafkan bagaimana? Ya, itu akan menjadi perkara kita dengan Allah. Sementara orang yang sudah meminta maaf (tapi tidak kita maafkan itu), sudah selesai urusannya dengan kita. Sedangkan kita, karena telah bersikap melampaui Allah (yang Maha Pemaaf), maka akan memperoleh sanksi dari Allah. Dan pastinya bukan sanksi yang ringan. Mau?
Jadi, marilah kita meminta maaf dan memaafkan. Mudah-mudahan itu akan menyelamatkan kita di akhirat nanti, dan menjadikan hidup kita di dunia semakin indah....