Thursday, September 1, 2011

Cerita Porno

Mira adalah cewek paling seksi di kantor saya. Bodynya seksi, bibirnya seksi, gerak-gerik matanya seksi, suaranya seksi, tingkah lakunya seksi, dan dia tak pernah tidak berpakaian seksi. Roknya selalu jauh di atas lutut. Orang zaman dulu menyebutnya, rok mini. Atasannya juga selalu ketat, sehingga semua lekukan ditubuhnya tereksplorasi dengan fantastis. Pokoknya, Mira itu seksi tuntaslah. Dan semua laki-laki normal di kantor saya punya fantasi sendiri-sendiri mengenai dia. Hmmm....
Suatu hari, dia bercerita kepada kawan dekatnya, Susi – yang sangat ember mulutnya. Sambil mengajak Susi ke pojok, Mira bilang, “Eh, Sus, gue punya cerita seru, nih. Tapi porno banget...!” itu jelas kalimat yang provokatif. Manusia mana sih yang tak tertarik dengan yang namanya porno? Maka Susi antusias mengikuti Mira ke pojok. Dan Mira pun segera bercerita:

“Tadi pagi, waktu gue selesai mandi, gue mergokin maling yang keluar dari kamar gue sambil bawa buntelan gede. Wah, ya gue kaget. Dia juga kaget. Terus maling itu nunjuk gue sambil melotot, dia bilang, “Awas kalo berani teriak!”
Ya gue jadi gak berani teriak. Soalnya gue sadar, saat itu gue cuma dibungkus selembar handuk doang. Kalo gue diapa-apain gimana? Makanya gue ngangguk, gak mau teriak. Maling itu tersenyum dan nepuk-nepuk pipi gue, “Bagus,” katanya. Ih, sumprit, gue baru sadar kalo ternyata itu maling keren banget, Suuuussss. Senyumnya lucu. Mukanya kayak... hmmm, Brad Pit! Dan badannya juga bagus. Six pack kali perutnya.”
Susi mencebik, “Dasar gatel lo... ama maling aja masih jelalatan,” ejeknya.
“Abisnya emang keren, sih. Kalo elo yang jadi gue tadi pagi, pasti elo mau deh dibawa sekalian ama itu maling. Bener, deh! Ah, udah, udah, jangan nyela lagi. Mau gue terusin nggak nih ceritanya?”
Susi mengalah, “Iya, iya, mau dong, Mir. Terus, terus, gimana? Elo diperkosa ama itu maling? Apa elo menyerahkan diri dengan sukarela? Berapa kali? Pantes elo telat tadi.”
“Iiiihhh, nggaklah ya! Emangnya gue cewek apaan? Nah, seudah nepuk-nepuk pipi gue, itu maling terus pergi. Seudah dia keluar pintu pagar halaman, baru gue inget, aduh... gue lupa minta nomor hpnya...!”
“Hah? Buat apaan? Ngundang dia buat maling harta-banda lo lagi?”
“Yeee, ya buat cem-cemanlah! Siapa tau asyik. Terus, seudah itu maling pergi, gue masuk ke kamar gue. Gue periksa deh semua barang-barang gue. Tapi... aneh, semua perhiasan dan barang berharga gue masih utuh. Cuma... semua celana dalem gue gak ada, Sus. Kayaknya diambil semua deh ama maling itu....”
Susi terbeliak, langsung tanggap pada inti masalahnya, “HAAAHHH?! Jadi, berarti sekarang elo gak pake...?”
Mira mengangguk, mengiyakan, sambil menyeringai aneh.
Tapi Susi jadi ingin tahu, “Tapi ngomong-ngomong... gimana rasanya tuh, Mir?”
“Hmmm... ya gitu, deh. Kayak kita duduk-duduk di teras vila di puncak. Sejuk-sejuk gimanaaa gitu,” jelas Mira.
Susi jadi membayangkan, tapi lantas meringis, “Eh, jadi, maksud lo, cerita porno banget itu... yang porno itu sebetulnya yang itu, ya?” katanya, sambil menunjuk ke wilayah pornonya Mira.
“Hi hi hi hi... yaaa gitu, deh....”
Dasar Susi itu makhluk ember, maka dalam sekejap mata cerita porno Mira itu telah menjadi bahasan umum di kantor. Akibatnya, para perempuan jadi ramai bergunjing, sedang para lelaki mengerumuni Mira untuk mendengarkan secara langsung cerita pornonya. Dan pastinya, ceritanya sama sekali tidak penting buat para lelaki yang antusias mengerumuni Mira seharian itu, tapi pornonya itu yang diharap-harapkan akan... tahu sendirilah!