Thursday, September 1, 2011

Mie Instan atau Kelaparan?

Lebaran memang waktunya pesta. Pesta saling maaf-memaafkan, pesta aneka makanan. Tapi itu pada hari pertama dan kedua. Karena setelah itu, rata-rata makanan sudah ludas diganyang, dan... mulailah hidup dengan susah payah. Kok susah payah? Ya bagaimana tidak? Mau masak enak, tapi yang mau dimasak tidak ada. Warung belum pada buka, pasar masih sepi. Atau sialnya, yang biasa masak (pembantu) lagi mudik. Padahal tak ada yang bisa masak selain dia. Alhasil, yang tabungannya masih penuh, memgembara dari satu restoran ke restoran lainnya.

Menghamburkan hasil jerih-payah agar perut tetap kenyang. Tapi itu tergolong beruntung. Yang tidak punya banyak uang bagaimana? Warung nasi, belom pada buka. Tukang jajanan keliling, juga belum kelihatan batang hidungnya. Akhirnya... ya mie instanlah jalan keluarnya.


Hah, mie instan? Wah, itu kan bahan makanan tak sehat! Bisa merusak lambung kalau dikonsumsi terlalu sering! Bisa... pokoknya tak baguslah buat kesehatan! Itu kata orang-orang yang merasa punya alasan buat bilang begitu. Tapi kalau perut sudah kerincingan (bukan keroncongan lagi), ya gajah pun bisa dimakan. Boleh dimakan! Lagipula, kalau kita mau pake sedikit akal sehat, semua makanan itu berbahaya bagi kesehatan - kalau dikonsumsi secara berlebihan. Bahkan nasi, yang sudah kita kenal dan konsumsi dari sejak kita mulai merangkak sampai akhirnya digotong ke liang kubur, bisa berbahaya buat orang yang kesehatannya sudah di bawah batas normal. Juga daging, gula, dan masih banyak lagi. Semuanya bisa merusak kesehatan kalau dikonsumsi dengan tidak semestinya.
Jadi, mie instan bagaimana? Selama dikonsumsi sesuai kebutuhan, ya tak masalah juga kali. Banyak orang yang selama puluhan tahun makan mie instan, tapi tetap baik-baik saja. Sehat. Tapi coba lihat para pejabat dan orang kaya yang makanannya katanya selalu sehat itu, apa mereka juga selalu sehat? Apa mereka tak digerogoti kanker? Apa jantung mereka kuat? Apa mereka aman dari diabetes?
Mereka yang makan mie instan dan tidak makan mie instan penyakitnya kira-kira sama saja: Flu, batuk, kanker, diabetes, maag, typhus, dan sebangsanya. Jadi, daripada kelaparan, ya makan saja mie instan. Karena orang lapar jadi mudah sakit, dan kadangkala juga jadi sumber penyakit buat sesamanya – soalnya jadi nekad merampok, menodong, mencuri, membunuh, dan seterusnya. Jadi, sekali lagi, daripada lapar, makan saja mie instan itu!
Supaya kita tidak terus-terusan waswas mengenai bahan makanan ini, mari kita simak penjelasan dari Prof. Dr. F. G. Winarno, mantan Presiden Codex Dunia & Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman) mengenai mie instan berikut ini. 
Mitosnya: Mie instan itu mengandung lilin. Oleh karena itu, ketika dimasak airnya jadi menguning.
Faktanya: Itu dugaan yang keliru. Mie instan tidak menggunakan lilin. Lilin sebenarnya adalah senyawa inert yang berfungsi untuk melindungi makanan agar tidak basah dan atau cepat membusuk. Lilin sebenarnya ada pada semua bahan makanan alami, seperti apel dan kubis. Kubis jika dicuci dengan air tidak langsung basah, atau apel yang jika digosok akan mengilap. Itulah lilin yang memang diciptakan alam
Mitosnya: Mie instan menggunakan bahan pengawet yang berbahaya bagi kesehatan.
Faktanya: Dalam proses pembuatannya, mie instan menggunakan metode khusus agar lebih awet, namun sama sekali tidak berbahaya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu cara pengawetan mie instan adalah deep frying yang bisa menekan rendah kadar air (sekitar 5%).
Metode lain adalah air hot drying (pengeringan dengan udara panas). Inilah yang membuat mie instan bisa awet hingga 6 bulan. Selama kemasannya terlindung secara sempurna. Kadar air yang sangat minim ini, membuat bakteri pembusuk tidak bisa hidup apalagi berkembang biak. Malah mie instan tidak beraroma tengik serta tidak menggumpal karena basah.
Langkah terakhir untuk memastikan mie instan layak konsumsi adalah, perhatikan dengan seksama tanggal kedaluwarsanya.
Mitosnya: Metode dua air terpisah adalah cara terbaik dalam memasak mie.
Faktanya: Justru air rebusan mie pertama yang memiliki kandungan betakaroten yang tinggi. Semua vitamin (dari minyak dan bumbu) yang larut dalam air terdapat dalam air rebusan pertama ketika memasak mie. Apabila air rebusan diganti dengan air matang baru, semua vitaminnya menghilang.
Selain itu, minyaklah yang membuat mie (atau makanan lain) lebih enak. Jadi air rebusan pertama tidak perlu dibuang. Dan kandungan betakaroten juga tecoferol dalam minyak sangat berguna dalam memenuhi kebutuhan gizi.
Mitosnya: Penggunaan styrofoam berbahaya bagi kesehatan, apalagi jika styrofoam terkena air panas, seperti ketika memasak mie instan dalam cup.
Faktanya: Styrofoam untuk mie instan cup terbukti aman digunakan, karena telah melewati standar BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Cup yang dipakai mie instan adalah styrofoam khusus untuk makanan. Ia memang bisa menahan panas, ini terbukti setelah diseduh air panas, tidak terasa panas di tangan ketika dipegang.
Proses pressingnya yang memenuhi standar, sehingga tidak menyebabkan molekul styrofoam larut (rontok) bersama mie instan yang diseduh air panas. Jadi, jika selama ini khawatir dengan mie instan yang seakan menempel pada cupnya ketika diseduh air panas, semata-mata hal itu disebabkan oleh tingginya kadar minyak dalam mie (sekitar 20%). Desain pun dibuat berbeda yaitu dengan menambahkan gerigi dibagian atas cup, sehingga tak langsung panas di tangan.
Selain itu, expandable polysteren yang digunakan mie instan cup telah melewati penelitan BPOM dan Japan Environment Agency sehingga memenuhi syarat untuk mengemas produk pangan. Berdasar penelitian tersebut, kemasan ini aman digunakan.
Mitosnya: Mie instan kenyal karena bahan bakunya adalah karet.
Faktanya: Sama sekali tidak ada bahan karet dalam bahan baku mie instan. Mie instan dibuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi, seperti tepung terigu yang sudah difortifikasi dengan zat besi, zinc, vitamin B1, B2 dan asam folat.
Begitu pula dengan bumbu, yaitu bawang merah, cabe merah, bawang putih, dan rempah-rempah. Pembuatannya pun digarap serius. Melewati proses pengeringan yang telah dipaparkan sebelumnya, seperti hot air drying atau deep frying. Karena itulah mie instan kenyal dan tidak mudah putus.
Jadi, tak usah kuatir lagilah. Selama mie instannya diperoleh secara halal, mudah-mudahan tidak berdampak buruk pada kesehatan jiwa-raga.