Monday, April 7, 2014

Miskin Bukan Berarti Tidak Kaya

DENGAN apa kita mengukur miskin kayanya seseorang? Dengan banyak sedikitnya harta yang dimilikinya? Secara material, ukuran itu benar. Orang yang memiliki harta banyak, dia adalah orang kaya. Sebaliknya, orang yang hartanya sangat sedikit, dia orang miskin. Namun bagi orang yang memandang miskin kaya itu dari ukuran 'rasa cukup', maka orang yang kaya ialah mereka yang telah merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, dan membagi kelebihannya kepada orang lain yang membutuhkan, yang masih kekurangan. Sedangkan orang miskin ialah orang yang selalu merasa masih kekurangan, sehingga merasa belum bisa berbagi dengan orang yang lebih kekurangan dibanding dirinya.


Dalam konteks 'rasa cukup', belum tentu orang yang sudah memiliki aset bernilai triliunan itu adalah orang kaya, kalau dia merasa belum cukup dengan apa yang telah dimilikinya itu, sehingga ia merasa belum waktunya untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan bantuan. Sebaliknya, orang yang penghasilannya hanya seukuran UMR, namun merasa sudah cukup, ia tak akan merasa keberatan untuk membaginya dengan orang yang membutuhkan bantuan, apabila ia merasa masih mempunyai kelebihan pada penghasilannya itu.

Berikut ini adalah kisah seseorang yang pernah bekerja pada sebuah perusahaan Yahudi. Sebetulnya, secara materi, ia sudah tergolong sebagai manusia yang kaya di usianya yang belum lagi 40 tahun. Dan ia sudah menyambangi lebih dari 200 negara, demi mencari kekayaan dunia untuk dirinya, serta untuk perusahaannya yang dimiliki oleh orang Yahudi itu.

Ia mengatakan, betapa satu sen pun harus dikejar dalam bisnisnya. Dan yang namanya kerugian, meski hanya satu dolar, akan membuat pemilik usaha menjadi panik. Apalagi di zaman krisis global seperti sekaran ini. Selalu memburu harta. Mengejar kekayaan dunia. Takut miskin. Itulah yang tertanam dalam benaknya!

Namun pada suatu hari, ketika ia bertugas di Maroko, Afrika Utara. Ia mendapat hidayah. Ketika itu, ia singgah di sebuah perkampungan muslim yang bersahaja. Di dusun itu, karena ia seorang muslim, maka kehadirannya di disambut dengan baik oleh warga muslim di sana.

Ia dijamu makan. Hidangan yang akan disantap sudah tersaji dihadapan. Namun tidak seorang pun mulai menyantap makanan, dan ia pun belum dipersilakan untuk makan. Lalu seseorang datang ke ruang makan itu dan menyampaikan berita kepada tuan rumah, dalam bahasa Arab. Setelah itu, Andi pun dipersilakan untuk makan.

Sembari menyantap hidangan itu, ia diberitahu oleh tuan rumah bahwa warga kampung muslim di situ tidak akan pernah menyantap makanan, selagi mereka belum merasa yakin bahwa di luar sana tak ada seorang pun yang kelaparan. Rupanya, warga di dusun itu selalu saling berbagi makanan antara satu rumah dengan yang lain. Dan orang yang datang sebelum santap makanan tadi, adalah pembawa kabar bagi tuan rumah yang menyampaikan bahwa ia sudah membagi makanan bagi penduduk kampung yang belum mendapat makanan.

Pada malam itu, ia mendapat pelajaran berharga, bahwa berbagi kepada sesama akan membawa ketentraman dan kebahagiaan. Penduduk desa itu mayoritas adalah penduduk miskin, namun mereka bahagia dengan cara berbagi kepada sesama. Itulah pelajaran yang jauh berbeda dari apa yang selama ini ia dapat di perusahaan tempatnya bekerja.

Selesai bertugas di Maroko, ia kemudian ditugaskan untuk ke Cairo, Mesir. Dalam perjalanan bisnis pada suatu malam, ia menyewa sebuah taksi di sana. Taksi di kota Seribu Menara itu dimiliki oleh perorangan, dan kebanyakan armadanya sudah jelek dan bobrok.

Malam itu, ia membuka pembicaraan dengan sopir taksi Mesir demi memecah kebekuan. “Berapa uang yang kau hasilkan dalam sehari dengan membawa taksi seperti ini?” tanyanya, kepada sopir taksi. Dibenak ia membayangkan betapa kecilnya penghasilan yang akan disebutkan oleh sopir taksi ini, dibandingkan penghasilan yang ia dapatkan di perusahaan Yahudi terkenal.

“Aku tak membawa taksi ini seharian!” jawab sopir itu, dengan bahasa Inggris sekenanya.

“Apa kamu punya pekerjaan lain?” tanyanya lagi.

“Alhamdulillah, aku punya dua pekerjaan yang diberi Allah untukku. Dari pagi hari sampai sore aku bekerja di restoran, malam harinya aku menjadi sopir taksi!” sahut sang sopir.

“Apa hidup di Mesir sudah sedemikian sulit, sehingga engkau harus bekerja dobel dan mencari nafkah sampai malam?” Ia jadi makin ingin tahu.

“Tidak, hidup di negeri ini amat nikmat sekali! Dari pagi hingga sore aku mencari nafkah untuk diriku dan keluarga, dan itu cukup untuk kami,” jelas sang sopir.

“Lalu mengapa engkau menjadi sopir taksi?” Ia merasa heran.

“Saudaraku, hidup ini hanya sekali. Dan aku ingin hidup yang cuma sekali ini berarti untuk bekalku setelah mati. Maka sudah beberapa lama ini aku membawa taksi agar aku bisa mencari tambahan penghasilan, dan kemudian aku sedekahkan kepada mereka yang membutuhkan,” jelas sang sopir, apa adanya.

Akh! Perkataan itu terasa seperti petir menyambar di hatinya. Betapa hebat niat sopir taksi ini, gumamnya dalam batin. Dan ia sadar, tak pernah dengan kekayaan yang dimilikinya, ia bercita-cita mulia seperti itu. Ia seketika merasa tak berani buat meneruskan pembicaraan dengan sopir taksi itu. Pada saat itu ia merasa, bahwa seluruh harta yang ia cari rupanya belum apa-apa, dibandingkan kekayaan hati yang dimiliki oleh penduduk muslim miskin di Maroko, dan sopir taksi yang ia temui di Cairo, Mesir ini.

Dan pada saat itulah ia menyadari, ternyata orang-orang itu lebih kaya dari dirinya. Karena mereka merasa sudah cukup dengan apa yang telah mereka miliki, meski sedikit, dan dengan senang hati membagi kelebihannya kepada orang lain yang membutuhkannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa di antara kalian di waktu pagi ia merasa aman rumah tangganya, sehat badannya, dan mempunyai persediaan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia telah mendapatkan kebahagiaan dunia dengan semua kesempurnaannya.” HR. Tirmidzi