Sunday, January 6, 2013

Miskin dan Terjerat Rentenir

INI adalah kisah tentang Ayu (nama samaran), seorang ibu rumah tangga dengan setumpuk masalah ekonomi. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana di Bantul. Ia menjalani hidup dengan penuh ketakutan. Pasalnya, karena ia selalu mendapat teror, ancaman, caci maki, dan perkataan kasar dari para rentenir penagih utang, di rumahnya, setiap hari. Sebab ia tidak mampu melunasi utangnya yang terus menumpuk hingga Rp. 18 juta.
Perempuan berusia 45 tahun ini tidak pernah lari dari kejaran para rentenir. Ia selalu membukakan pintu dan menghadapi para rentenir saat suaminya berangkat kerja. Dalam kondisi sakit-sakitan, ia sendirian menghadapi para rentenir itu. "Saya tak pernah lari. Sepahit apapun saya hadapi masalah ini,” tuturnya, saat ditemui Tempo di rumahnya, di Bantul, pada Sabtu sore, 5 Januari 2013.

Tak ada barang mewah di rumahnya yang berdinding batu bata dan berlantai ubin itu. Dapurnya pun menyatu dengan ruang tamu. Hanya dua sepeda, yang menjadi barang berharga miliknya, yang tersisa. Semua barang-barang mewah yang lain telah ludes terjual, untuk membayar cicilan utang ke rentenir.
Ayu menuturkan, ia mulai terjerat rentenir sejak 4 tahun lalu. Seorang rentenir mendatangi rumahnya. Ia tergiur dengan tawaran rentenir, karena saat itu ia lagi kepepet, tidak punya uang sama sekali. Uang hasil pinjaman dari rentenir itu, yang sebesar Rp. 100 ribu itu  digunakannya untuk menambal modal dari jualan es jus di depan rumahnya. "Tidak ada pemasukan sama sekali dari hasil jualan. Ada tetangga yang kasih tau tawaran pinjaman uang dari rentenir,” kata dia.
Dari pinjaman sebesar Rp. 100 ribu itu, uangnya dipotong Rp. 15 ribu, untuk biaya administrasi. Selanjutnya, ia harus mengangsur sebesar Rp. 13 ribu setiap minggu, untuk jangka waktu pelunasan selama 10 minggu.
Kebutuhan ekonomi keluarga yang semakin meningkat, akhirnya membuat Ayu harus mengutang kembali ke rentenir lainnya. Karena Ayu harus membiayai sekolah dua anaknya. Suaminya, Marto (nama samaran), hanya bekerja sebagai sales. Per hari, rata-rata ia melakukan transaksi utang-piutang itu kepada 7 hingga 10 rentenir. Dan akhirnya, utangnya kepada 70 rentenir menumpuk hingga mencapai Rp. 18 juta.
Ayu mengatakan, para rentenir memiliki trik khusus untuk menjerat para pengutang atau nasabah. Ketika pengutang tak mampu bayar, seorang rentenir biasanya mengajak rentenir lain untuk meminjami uang. Ayu yang tidak punya uang, lantas mengambil solusi itu.
Menurutnya, para rentenir yang menagih cicilan utang memiliki karakter yang berbeda-beda. Mereka berdatangan saat suaminya pergi bekerja. "Saya diperlakukan seperti seorang maling. Mereka ada yang mengancam mau menusuk saya,” kata dia.
Setiap malam ia tidak bisa tidur tenang, karena memikirkan solusi membayar utang-utangnya. Ia memang sengaja tak mengatakan ke suaminya saat terjerat utang, karena tidak mau membebani.
Suatu hari, Ayu pernah pingsan di jalanan, karena mencoba mencari pinjaman ke sana ke mari, untuk melunasi utangnya ke rentenir. Suaminya, Marto panik dan berusaha mencarinya.
Marto baru mengetahui isterinya terbelit utang setahun terakhir. Akibatnya, saat di tempat kerja ia jadi tidak tenang, karena memikirkan nasib isterinya di rumah yang ditagih rentenir. "Istri saya tak pernah lari saat ditagih. Kami pasti bayar,” katanya sembari meneteskan air mata.
Ayu dan Marto hanya ingin hidup tenang tanpa ancaman. Mereka bertekad melanjutkan hidup, dan berusaha membayar utang-utang dengan cara bekerja keras. "Saya ingin kembali menjahit, dan berusaha melunasi utang. Semua ujian ini pasti ada hikmahnya,” katanya.