Monday, May 13, 2013

Ikhlas

SEPERTI para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan bangsanya, demi masa depan anak-cucunya, kerabatnya, temannya, dan semua saudara setanah-airnya. Ia tak pernah meminta untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan sebagai wasiatnya. Ia hanya mewasiatkan agar meneruskan perjuangannya, apabila ia gugur dalam perjuangan meraih kemerdekaan itu. Ia tidak ingin dikenang dan dipuja-puji sebagai orang yang telah berjasa. Ia hanya ingin apa yang diperjuangkannya tak disia-siakan. Karena ia pahlawan, bukan orang yang memperjuangkan sesuatu untuk dirinya – bahkan meski hanya untuk dipuji.

Apa yang pernah dilakukan oleh Nenek untuk Putri, cucunya, adalah gambaran lain dari seorang pahlawan itu. Mudah-mudahan, kisah Putri dan neneknya ini menjadi ibrah, pelajaran bagi kita semua, bahwa pahlawan bukanlah orang yang berteriak-teriak penuh semangat di atas panggung – tapi berharap akan menjadi pejabat nantinya.
Putri adalah gadis remaja yang masih duduk di bangku kelas 2 SLTA. Dia cantik, cerdas, dan penuh oleh daya hidup. Namun tak seperti teman-teman sebayanya, yang menjalani masa remajanya dengan leluasa dan penuh keriuhan, ia terkungkung di rumah karena harus mengurus neneknya yang lumpuh, yang hanya bisa berbaring di tempat tidur.
Sebagai remaja, yang menyimpan begitu banyak energi di dalam tubuhnya, tentu saja dia merasa terkekang. Ia ingin seperti teman-temannya, bisa jalan-jalan bersama di mal, bisa menikmati masa remajanya seperti yang lain. Ia jenuh dengan hidupnya yang hanya antara sekolah dan kamar neneknya. Ia merasa didzalimi. Merasa dirampas kebebasan hidupnya. Maka ia menyampaikan protesnya kepada orangtuanya.
“Ma, gantian dong ngerawat neneknya. Masak setiap hari harus aku,” ujarnya, pada ibunya. “Aku 'kan juga pingin kayak temen-temen, bisa mengaktualisasi diri dengan bergaul dan melihat dunia di luar sana.”
Ibu, yang perempuan soleh itu, menghibur anak gadis itu. “Bersabarlah, Putri. Segala sesuatu itu 'kan ada hikmahnya. Lagi pula, merawat Nenek itu lebih bermanfaat buat kamu daripada kamu keluyuran di mal. Percaya, deh.”
Kali ini, Putri bisa dibujuk oleh Ibu. Namun teman-temannya juga terus membujuk agar ia ikut dengan cara hidup mereka. Dan akhirnya, Putri protes lagi.
“Ma, Nenek itu 'kan ibunya Mama, kenapa harus Putri yang ngerawat dia? Harusnya 'kan Mama atau Papa. Itu baru namanya anak yang berbakti sama orangtua. Lagian juga, kenapa cuma aku yang disuruh ngurus Nenek? Kakak ama adik-adik kok nggak? Nggak adil itu namanya, Ma! Pokoknya, aku nggak mau ngerawat Nenek lagi, titik!”
Ibu memandang Putri dengan hati sedih. Airmata merebak dan lantas bergulir turun ke pipinya. Diraihnya kedua tangan Putri, digenggamnya dengan lembut. “Putri, Anakku. Kamu sekarang sudah besar. Jadi, Mama rasa sudah waktunya kamu tau, mengapa harus kamu yang selalu merawat Nenek.”
Putri jadi berdebar. Hatinya mendadak galau, dan pikirannya penuh oleh praduga dan prasangka. Ada apa ini?
“Ketahuilah, Nak. Kalau Nenek tidak lumpuh seperti sekarang ini, kamu pasti nggak ada di sini sekarang....” ungkap Ibu.
“Maksud Mama?” Putri tak paham.
Maka Ibu pun bercerita, “Dulu... waktu umur kamu baru 6 bulan. Keluarga kita mengalami musibah. Suatu malam, rumah kita kebakaran. Karena terjadinya tengah malam, dan kita semua sudah tertidur, maka kita semua lantas panik. Kita semua berusaha menyelamatkan apa-apa yang paling mungkin buat diselamatkan.”
“Waktu itu, Papa, Mama, dan Nenek hanya berpikir satu hal, selamatkan anak-anak! Maka, Papa dan Nenek menggendong kakak-kakak kamu, dan Mama menggendong kamu. Kami begitu panik saat itu, karena api sudah begitu besar.”
“Waktu kami berkumpul di jalan, agak jauh dari rumah, Papa tiba-tiba bertanya ke Mama: ‘Lho, Ma, Putri mana?’. Dengan yakin Mama menunjukkan kamu yang lagi Mama gendong. Tapi kami semua mendadak kaget, karena ternyata yang Mama gendong itu bukan kamu, melainkan guling kamu! Mama langsung syok dan jatuh pingsan.”
“Kamu masih di dalam rumah yang terbakar itu, Putri, di lantai atas. Dan kamu tau, apa yang terjadi kemudian? Sementara papamu lagi panik dan bingung mengurus Mama yang pingsan, Nenek nekad masuk kembali ke dalam rumah kita yang lagi terbakar hebat. Nenek menyingkirkan semua orang dan petugas pemadam yang berusaha menghalanginya.”
“Kami semua mengira Nenek dan kamu tak akan tertolong. Karena api betul-betul sudah mengepung rumah kita. Tapi tiba-tiba, kami melihat Nenek muncul di lantai atas. Tanpa aba-aba, Nenek langsung meloncat ke bawah. Petugas pemadam kebakaran berusaha menangkapnya, tapi tak berhasil. Maka Nenek jatuh dengan keras ke tanah. Dipelukannya, kamu sedang menangis.”
“Kamu selamat, Putri. Nenek berhasil menyelamatkan kamu, tapi Nenek harus menerima kenyataan akibat cedera yang dialaminya. Sejak itulah Nenek lumpuh....”
Ibu dan anak gadisnya berpelukan dan menangis.
“Kenapa Nenek nggak pernah cerita ke Putri kalau Nenek...,” sedu Putri, menyesal.
“Karena Nenek menyayangi kamu, Nak. Tidak penting apa yang harus Nenek alami demi orang yang disayanginya ini. Nenek memang lumpuh. Tapi Nenek bahagia melihat kamu masih hidup dan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar....”
Sejak itu, bagi Putri, tiada yang lebih menyenangkan baginya selain mendampingi dan merawat Nenek.
Dan kita, sebenarnya adalah Putri dalam ujud yang lain. Kalau saja kita mengetahui, mengapa kita harus mencintai mereka yang menyayangi kita. Seandainya saja dibukakan hijab atas kita, mengapa kita harus mengasihi sesama dan juga seluruh alam semesta ini, niscaya kita akan memelihara semuanya dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan....