Monday, February 24, 2014

Ini alasan Arkand ingin ganti nama Indonesia jadi Nusantara

Usulan ini mungkin terdengar keterlaluan, dan bisa bikin rakyat Indonesia marah. Namun begitu, usulan itu bukanlah tanpa alasan yang baik, walaupun mungkin belum tentu benar. Dan orang yang mengusulkan pergantian nama itu ialah Arkand Bodhana Zeshaprajna. Ingin tahu apa alasannya? Ikuti terus tulisan ini.

Menurut Arkand, nama Indonesia hanya memiliki Synchronicity Value sebesar 0.5 dan Coherence Value 0.2 yang menunjukkan rendahnya kualitas struktur nama tersebut. Dalam situsnya itu, Arkand juga menjelaskan apa itu Synchronicity Value dan Coherence Value.

"Bahwa negara-negara maju memiliki struktur nama yang berkualitas baik dan negara-negara yang belum juga maju dan tetap miskin memiliki struktur nama yang berkualitas rendah," tulis Arkand dalam situsnya, Arkand.com yang dikutip merdeka.com, Rabu (26/2).

Sebagai perbandingan, dalam lamannya itu Arkand juga memberikan tabel negara-negara yang memiliki nama Synchronicity Value dan Coherence Value yang baik. Negara yang memiliki Synchronicity Value dan Coherence Value tinggi maka pendapatan perkapitanya juga tinggi.

Menurut Arkand, kata Indonesia bukan berasal dari orang Indonesia atau pribumi. Hal ini membuat perjalanan bangsa kini menjadi terseok-seok.

"Asal-usul kata yang ternyata bukanlah hasil karya putra bangsa dan struktur kata yang ternyata tidak baik, yang terbuktikan dengan kondisi bangsa dan negara hingga saat ini yang semakin buruk membangkitkan pemikiran untuk mengganti nama negara Indonesia," ujar Arkand.

Menurut Arkand, banyak kebudayaan di dunia yang mengganti nama seseorang yang sering sakit pada masa anak-anak. Begitupun dengan negara, jika bangsanya sering sakit-sakitan, maka mengganti nama negara bisa jadi solusi.

"Jika di banyak budaya di dunia yang mengganti nama seseorang yang sering sakit pada masa anak-anak melalui pendekatan budaya dan religiusitas, maka saat ini kita mendekatinya juga melalui pendekatan budaya, religiusitas dan ilmu pengetahuan. Tiga pendekatan ini menemukan satu kata: Nusantara," tutup Arkand.