Friday, March 28, 2014

Selfie, Oke, Asal Jangan Pornoaksi

BOLEH dikata, setiap orang yang memiliki ponsel atau HP, apa lagi smartphone, yang mempunyai kamera, pasti pernah memotret diri sendiri dengan perangkatnya itu, atau sekarang lazim disebut selfie. Hanya saja, kadar tensitasnya berbeda-beda. Ada yang cuma sekali sekali, ada yang rutin, dan pasti ada juga yang harus. Tentunya tergantung pada kadar rasa percaya diri (atau malah penasaran diri, karena sampai perlu memotret diri berkali-kali?), keperluannya, dan sempat tidaknya. Yang percaya dirinya tinggi, sudah pasti selfie di mana-mana. Tak peduli orang-orang di sekitarnya jadi muntah-muntah karenanya. Kalau berdasar keperluannya, ini yang umum dilakukan. “Mumpun lagi di Menara Eiffel nih, selfie aah...!” Cekrek! Tapi di atas segalanya, pastilah faktor sempat dan tidak itu sangat penting. Soalnya, kalau lagi panik mengejar-ngejar kereta 'kan tak mungkin selfielah.

Nah, soalnya adalah, apa selfie itu merupakan aktivitas pribadi yang sehat? Sejauh selfienya masih di seputaran wajah, dengan bibir dimonyongkan, atau lidah dileletkan, itu terbilang sehat. Tapi kalau sudah masuk ke area ekshibisionis, nah, itu sudah tidak sehat. Itu sudah masuk dalam lingkungan gangguan kejiwaan. Soalnya, apa orang yang jiwanya sehat kalau suka memamerkan aurat atau bagian-bagian tubuhnya yang tak umum dipertontonkan?

Boleh jadi, selfie ekshibisionis kita itu hanya untuk dokumentasi pribadi kita. Misalnya, buat  menjadi bukti bahwa kita pernah punya bodi singset, dengan ini-itu yang oke. Tapi, awas, di zaman digital sekarang ini, di mana rahasia kita bisa disusupi secara ‘gaib’, entah lewat bluetooth yang lupa kita matikan, atau jaringan wi-fi, atau teknisi servis HP yang iseng ‘menyusup-nyusup’, rahasia paling rahasia kita yang tersimpan di perangkat digital bisa dicomot orang, dan jadi sumber bencana buat kita. Foto pornoaksi kita menyebar di internet, dan kita dicokok polisi. Celaka....

Jadi, mengutip slogannya Komunitas Camfroger Indonesia (KACI), “Jangan bugil di depan kamera!”, ada bagusnya kalau kita jangan pernah berbugil di depan kamera. Dan kalaupun memang sangat ingin bisa menyaksikan ‘keindahan yang kita miliki’, sebaiknya filenya segera dihapus. Jangan pernah yakin bahwa HP atau perangkat digital Anda aman, dan tak akan pernah mungkin jatuh ke tangan orang lain. Sebab itu adalah jalan untuk tersebarnya aib kita.

Nah, selama kita hanya selfie pada tingkah laku dalam busana lengkap, kita hanya akan menjadi bagian dari jutaan orang yang juga suka berselfie. Dan itu sah-sah saja. Supaya afdol, sebaiknya kita juga mengetahui mengenai fakta-fakta yang berkaitan dengan perilaku selfie ini. 

1. Saat ini, jumlah foto selfie yang terdata adalah, ada 1 juta foto selfie yang diambil tiap harinya. Jadi, kalau kita hari ini melakukan selfie maka apa yang kita lakukan itu masuk ke dalam yang sejuta itu. 

2. Statistik menunjukkan, usia pemotret selfie adalah, 75% berkisar antara usia 18 tahun sampai 24 tahun. Dan sisanya adalah 25 tahun ke atas. 

3. Ada 7 tempat favorit untuk membagikan foto selfie, yaitu di Facebook – 48%, di Text – 14%, WhatsApp – 13%, Twitter – 9%, Instagram – 8%, Snapchat – 5%, dan Pinterest – 2%. 

4. Jangan pernah mengatai pelaku selfie itu kampungan. Karena kebanyakan pelaku selfie adalah justru warga kota metropilitan. Nah, berikut ini daftarnya:

a. Di Makati dan Pasig, Filipina, ada 258 orang di antara 100 ribu orang

b. Di Manhattan, New York, ada 202 di antara 100 ribu orang

c. Di Miami, Florida, ada 155 di antara 100.000 orang

d. Di Anaheim dan Santa Ana, California, ada 147 di antara 100 ribu orang

e. Di Petaling Jaya, Malaysia, ada 141 di antara 100 ribu orang

f. Di Tel Aviv, Israel, ada 139 di antara 100 ribu orang

g. Di Manchester, Inggris, ada 114 di antara 100 ribu orang

h. Di Milan, Italia, ada 108 di antara 100 ribu orang

i. DI Cebu, Filipina, ada 99 di antara 100 ribu orang

j. Di George Town, Malaysia, ada 95 di antara 100 ribu orang 

5. Di Indonesia? Ternyata ada 2 kota Indonesia yang memiliki warga berselfie tertinggi, yaitu Denpasar – yang menempati urutan ke-18 di dunia – dengan 75 orang di antara 100 ribu orang. Peringkat keduanya adalah Yogyakarta – yang menempati urutan ke-43 di dunia – dengan 51 di antara 100 ribu orang. 

6. Apa sih alasan orang melakukan selfie? Seperti sudah disinggung di atas, alasannya antara lain ialah: Untuk mengingat momen bahagia, atau merekam momen unik, atau juga merekam kejadian menarik, tapi tak jarang yang merekam rambutnya yang indah, dan lain-lain – yang berkenaan dengan rasa percaya dirinya. 

Nah, apa alasan selfie Anda?