Wednesday, September 3, 2014

Kisah istri jenderal polisi jujur, pinjam uang ibu buat belanja

MERDEKA.COM. AKBP Idha Endri Prastiono, ditangkap di Kuching, Malaysia. Dia diduga terlibat sindikat narkotika Internasional. Rekam jejak perwira menengah Polda Kalbar ini pun diwarnai perselingkuhan dan kasus. 

Tak cuma itu, istri Endri pun sempat tersangkut masalah hukum. Pada tanggal 3 Januari 2014 lalu, AKBP Endri bersama istrinya Titi Yusnawati berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan keluarga di Bekasi.

Saat berada di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Endri dan istri mengaku kehilangan perhiasan. Pasangan ini mengaku perhiasan yang hilang mencapai Rp 19 miliar. Namun setelah diselidiki, diperkirakan jumlahnya cuma sekitar 180 juta. Terungkap juga Endri pergi ke Jakarta tanpa izin dari pimpinan.

Kapolri Jenderal Sutarman menyebut AKBP Endri sebagai trouble maker. Tindakannya menampar Polri.

Ada kisah menarik bagaimana kehidupan seorang istri pejabat polisi. Teladan yang diberikan Irjen Ursinus Ellias Meddelu. Ursinus menjabat komandan lalu lintas Polri tahun 1965-1972. Tujuh tahun dia berada di lingkungan yang sangat 'basah'. Tapi jenderal ini sama sekali tak berfikir untuk korupsi.

Gajinya saat itu sebagai Brigjen Polisi tak besar. Karena cuma mengandalkan gaji, Ursinus bahkan terpaksa ngutang sama mertua untuk membiayai istri dan delapan anaknya.

Ursinus merasa beruntung karena istrinya Napa Dahlia Adriana Christina Medellu juga mengikuti gaya hidupnya yang sederhana. Padahal biasanya, ibu-ibu Korps Bhayangkara dikenal hidup glamor.

"Napa bisa menerima pola kehidupan saya yang dianggap melawan arus. Terkadang saya merasa kasihan kalau mengingat istri mengalami kondisi serba sulit," ungkap Ursinus buku Bhayangkara Pejuang Melawan Penjajah dan Arus Korupsi, terbitan Gramedia Pustaka.

Secara gamblang Ursinus mengakui, untuk ukuran seorang Jenderal kehidupannya sangat memprihatinkan. Uang pensiunannya tak cukup membiayai keluarganya. Tapi dia tak menyesal. Buatnya, kemewahan yang berasal dari hasil korupsi malah membuatnya lebih menderita.

"Napa beberapa kali memberitahu soal keterbatasan uang untuk biaya hidup. Tapi dia tak mengomel atau marah-marah. Sebatas memberitahu saja," tambahnya.

Setiap menghadapi masalah keuangan, untungnya Ursinus merasa Tuhan selalu memberinya jalan. Melalui mertuanya (orangtua Napa) yang hidup berkecukupan, Jenderal polisi itu malah harus meminjam uang untuk sekadar mengisi perut anak-anak dan istrinya.

"Napa biasanya meminjam uang dulu dari ibu saat kita sangat membutuhkan. Tapi kita disiplin, setelah gajian harus dibayar kembali," kisahnya.

Ursinus merasakan kehebatan sang istri yang berjuang bersamanya dalam hidup yang pas-pasan. Padahal Napa terbiasa dengan hidup layak.

"Saya anggap ini kebaikan Tuhan, karena Napa tidak pernah menekan agar mencari uang yang tidak benar," tandas mantan Kapolda Sumut ini bangga.

Anak sulung Ursinus, Elias Christian Meddelu menuturkan mungkin di perumahan perwira tinggi Polri dulu, keluarga Ursinus yang hidupnya paling sederhana. Soal kejujuran, Ursinus sangat tegas. Tak ada satu rupiah pun uang kepolisian boleh dikorupsi.

"Papa takut hukum Tuhan. Dia tak mau korupsi," kata Elias soal mendiang ayahnya yang meninggal 8 Januari 2012 lalu.

Andai saja semua pejabat polisi bisa meneladani kisah ini.