Wednesday, April 3, 2013

Dampak Fisik dan Psikis Bagi Anak Gendut

URUSAN anak memang selalu bikin serba salah. Kalau anak susah disuruh makan dan jadi kurus, lantas orangtuanya yang dibilang kurang mengurus anak sehingga anaknya kurus. Tapi kalau anaknya diurus dengan baik sehingga jadi terlalu subur dan menggelembung bulat, malah dibilang tidak sehat. Dan ditakut-takuti dengan ancaman berbagai penyakit. Mulai dari yang fisik, sampai yang psikologis. Bikin hati orangtua jadi ciut. Tapi hal itu juga tak keliru, kok. Karena kini sudah terbukti bahwa kegemukan atau obesitas memang membawa dampak kecenderungan yang tidak sehat.

Bisa dibilang, sekarang ini obesitas telah menjadi masalah yang mengkhawatirkan bagi kesehatan banyak orang. Karena obesitas tak hanya memberikan efek fisik, tapi juga mempengaruhi psikologis. Khususnya pada anak-anak.
Obesitas merupakan kondisi medis yang serius, yang banyak mempengaruhi anak-anak dan remaja. Ini terjadi ketika anak memiliki bobot jauh di atas normal untuk anak seusianya, dan dengan ketinggiannya. Obesitas sangat menganggu, karena kelebihan berat badan yang dimulai ketika masih anak-anak bisa menimbulkan masalah ketika dewasa.
Berikut ini adalah efek fisik akibat obesitas masa kanak-kanak, dari beberapa sumber:
1. Diabetes tipe 2
Diabetes tipe 2 pada anak-anak adalah suatu kondisi kronis yang mempengaruhi cara tubuh anak mencerna gula (glukosa). Diabetes tipe 2 sebagian besar disebabkan oleh pola makan yang buruk, dan akan bisa normal kembali dengan memakan makanan sehat dan berolahraga.
2. Sindrom metabolik
Sindrom metabolik bukanlah penyakit itu sendiri, melainkan sekelompok kondisi yang bisa membuat anak beresiko terkena penyakit jantung, diabetes, atau masalah kesehatan lainnya. Termasuk juga tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, dan kelebihan lemak perut.
3. Kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi
Anak bisa mengalami tekanan darah tinggi atau kolesterol tinggi jika mempunyai pola makan yang buruk. Faktor-faktor ini dapat berkontribusi pada penumpukan plak di arteri. Dan plak itu dapat menyebabkan arteri jadi menyempit dan mengeras, yang akhirnya bisa menyebabkan serangan jantung atau stroke di kemudian hari.
4. Asma dan masalah pernapasan lainnya
Kelebihan berat badan pada tubuh anak bisa menyebabkan masalah pada perkembangan dan kesehatan paru-paru anak, yang selanjutnya akan menyebabkan asma atau masalah pernapasan lainnya.
5. Gangguan tidur
Sleep apnea merupakan suatu kondisi di mana anak mendengkur, atau pernapasannya abnormal ketika tidur. Ini merupakan komplikasi dari obesitas. Perhatikan masalah pernapasan anak Anda saat dia tidur.
6. Penis kecil
Obesitas bisa membuat kelamin (penis) anak-anak menjadi berukuran abnornal (mikropenis). Ini disebabkan testosteron lebih rendah jumlahnya, sehingga pertumbuhan penisnya tak maksimal.
"Rumus bagi laki-laki, nggak boleh gemuk!" ujar Psikiater, Sex Educator, dan Sex Counselor, Dr Naek L Tobing.
7. Awal pubertas atau menstruasi pada anak perempuan
Menjadi gemuk bisa membuat hormon anak menjadi tidak seimbang. Dan ketidak-seimbangan itu bisa menyebabkan pubertas mulai lebih awal dari yang diharapkan.

Sedangkan efek psikologis obesitas pada anak meliputi:
1. Rendah diri dan bullying
Anak-anak jadi sering mengejek atau menggertak teman-temannya yang kelebihan berat badan, sehingga membuatnya kehilangan harga diri dan meningkatkan resiko depresi.
2. Perilaku dan masalah belajar
Anak yang kelebihan berat badan cenderung lebih cemas, dan keterampilan sosialnya lebih buruk, dibandingkan anak yang memiliki berat badan normal. Di satu sisi, masalah ini bisa menyebabkan anak obesitas jadi mengganggu di kelas, atau tak percaya diri.
3. Depresi
Randah diri bisa menciptakan perasaan yang luar biasa dari rasa putus asa pada beberapa anak yang kelebihan berat badan. Anak yang mengalami depresi mungkin kehilangan minat dengan kegiatan normal, seperti tidur lebih dari biasanya atau banyak menangis.
Beberapa anak yang mengalami depresi menyembunyikan kesedihannya, dan sebagai gantinya datar secara emosional. Jika Anda berpikir anak Anda tertekan, bicaralah dengannya.