Monday, January 20, 2014

Tiga Hari Bersama Banjir Jakarta

Di bantaran Kali Ciliwung, banjir tak pernah mengenal belas kasihan....
(sebuah catatan bencana) 

Pada hari Minggu, tanggal 12 Januari 2014, BMKG mengeluarkan peringatan akan terjadinya siklon tropis di wilayah Indonesia Bagian Barat dan di Nusa Tenggara Timur. Jadi, dalam satu atau dua hari ke depan, bakal terjadi cuaca buruk di wilayah antara Sumatera hingga Sulawesi. Dan buat saya, itu adalah berita yang sangat mematahkan hati. Karena kebetulan, saya sudah membuat janji untuk pergi ke Pulau Pramuka, di Kepulauan Seribu, pada hari Selasa, 14 Januari 2014.


Membagi dua bantuan supaya bisa dibagi dalam 2 hari.
Hari Senin, 13 Januari 2014, cuaca Jakarta menjadi gambaran dari peringatan BMKG. Hujan angin dan sebagainya terjadi hampir seharian. Namun hari Selasa, 14 Januari 2014, dengan “bismillah” saya meninggalkan rumah setelah Subuh menuju Pelabuhan Muara Angke. Alhamdulillah, cuaca terlihat bersahabat. Hanya, gerimis sempat turun sebentar ketika kapal kayu (ojek) yang kami tumpangi beranjak meninggalkan pelabuhan. Palayaran berjalan sedikit berguncang, karena ombak pagi itu terasa cukup besar buat saya. Tapi saya merasa tenang oleh pernyataan orang-orang yang biasa melayari perairan ini, yang mengatakan bahwa laut dalam keadaan teduh, yang artinya relatif normal. Dan memang demikian. Saya sampai di Pulau Pramuka dengan tanpa suatu kendala, dan pulang menggunakan kapal cepat, juga dengan lancar.

Namanya juga baksos, bareng barang ya oke aja....
Puji Tuhan, hari itu cuaca sangat ramah. Namun setelah kami mendarat di Jakarta kembali, cuaca mulai berubah. Menjelang Maghrib, saya lihat langit sangat menyeramkan dengan awan hitam yang sangat padat mengapung di atas Jakarta. Dan... saat kami sholat Maghrib, pas sedang sujud, hujan sangat deras tiba-tiba terdengar mengguyur atap masjid sehingga menimbulkan suara yang keras. Saya bersyukur, Tuhan telah memudahkan urusan saya.

Sejak itu, cuaca Jakarta tak lagi bersahabat. Hujan deras terjadi setiap hari, sehingga mulai terdengar kabar-kabar mengenai genangan dan banjir di seantero Jakarta. Sementara dari Manado, datang kabar bencana. Telah terjadi banjir bandang di sana, sehingga kota Manado terisolasi karena semua jalan penghubung ke wilayah lain terputus. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Menurunkan bantuan walaupun di tengah hujan....
Jakarta, khususnya di sepanjang bantaran Kali Ciliwung, mulai dilanda banjir. Televisi mulai ‘berpesta’ dengan liputan banjir. Musuh Jokowi bergembira dengan berbagai cara, termasuk dengan memasang spanduk pengecut bertuliskan “Jokowi Capres Banjir”, karena tak ada keterangan siapa yang bertanggungjawab atas spanduk itu. Bahkan tak ada yang tahu, kecuali Tuhan, yang memasang, dan yang menyuruh memasang spanduk itu tentunya, siapa sebenarnya yang memasang spanduk itu dan kapan dipasangnya.

Kamis pagi, 16 Januari 2014, saya dihubungi sahabat komunitas Ikatan Alumni STP/IISIP Angkatan 1983, yang mengabarkan bahwa mereka akan mengadakan baksos membantu korban banjir pada hari Jumat, 17 Januari 2014, dan saya diundang untuk turut berpartisipasi – minimal untuk hadir. Maka, hari Jumat, usai sholat Jumat saya bertolak ke lokasi yang mereka tentukan, yaitu daerah Gunuk, di Tanjung Barat. Namun di tengah perjalanan, saya dikontak oleh mereka untuk tidak usah ke lokasi, tapi bergabung dengan mereka di Perumahan Tanjung Barat Indah. Maka saya pun meluncur ke sana.

Rumah-rumah yang terendam....
Belakangan mereka menjelaskan kepada saya bahwa rencana baksos hari itu dibatalkan, karena banjir sudah surut dan pengungsi yang akan diberi bantuan telah kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka hanya menurunkan beberapa bahan makanan ke posko yang mereka datangi. Kami kemudian berembug mengenai kelanjutan baksos ini. Saya mengusulkan untuk memilah bantuan ke dalam dua kategori, yaitu bantuan darurat dan bantuan atas permintaan. Bantuan darurat yaitu bantuan dalam bentuk bahan makanan. Sedangkan bantuan atas permintaan yaitu bantuan pakaian layak pakai.

Dugaan saya tepat, banjir kembali datang – sebetulnya sudah terjadi di saat kami sedang berembug soal bantuan itu. Maka, ketika banjir mencapai puncaknya pada pukul 02 – dini hari, mereka dihubungi oleh posko di Gunuk. Dan pagi-pagi sekali, bantuan darurat – bahan makanan, segera dikirim ke lokasi. Sorenya, mereka menyerahkan bantuan yang tersisa – berupa pakaian layak pakai – kepada saya, untuk saya salurkan lewat baksos yang dilakukan oleh komunitas Recehan untuk Indonesia, yang kali ini bekerjasama dengan Posko Bantuan Banjir Ikatan Alumni SMA 8F_79.

Mereka yang baksos di tengah malam.
Hari itu juga, Sabtu, 18 Januari 2014, sisa bantuan dari komunitas Alumni STP/IISIP Angkatan 1983 kami serahkan kepada komunitas Recehan untuk Indonesia yang memang sedang menghimpun bantuan. Saya mengusulkan agar bantuan dari Alumni STP/IISIP ’83 dibagi dua, untuk hari ini dan besok. Maka, setelah bantuan pakaian layak pakai dibagi dua, kami berangkat dari markas Recehan untuk Indonesia ke Posko Bantuan Banjir Ikatan Alumni SMA 8F_79, di Kebon Baru, Tebet, yang dekat dengan lokasi bencana.

Baksos Tengah Malam
Hal yang membuat saya merasa aneh, persiapan baksos malam itu disambut dengan ‘hujan aneh’ – yaitu hujan yang selalu tiba-tiba turun dengan deras, beberapa menit, lalu tiba-tiba berhenti, juga untuk beberapa menit, kemudian hujan lebat lagi, berhenti lagi, hujan lagi, dan terus begitu sampai kami usai melaksanakan baksos – pada dini hari, pukul 03.

Memanggul bantuan.
Sekitar pukul 21 saya dan teman-teman komunitas Recehan untuk Indonesia  sampai di Sekretariat Ikatan Alumni SMA 8F_79 yang dijadikan Posko Bantuan Banjir itu. Di sana, kami bergabung dengan relawan Ikatan Alumni SMA 8F_79 dan mengatur serta memilah-milah bantuan yang akan disalurkan, sambil menunggu informasi dari relawan di lapangan mengenai wilayah-wilayah yang membutuhkan bantuan.

Minggu, 19 Januari 2014, pukul 00.30, kami berangkat dari posko menuju lokasi bencana yang akan diberi bantuan, yaitu di wilayah Bukti Duri Tanjakan 1, di belakang Dipo Kereta Api Bukit Duri. Hujan deras menyertai keberangkatan kami. Dan pas kami tiba di lokasi bencana, hujan juga kembali turun dengan deras. Sambil berpayung dan berjas hujan kami menurunkan bantuan, di bantu oleh relawan dari posko Bukit Duri Tanjakan 1.

Silaturahim pada dini hari.
Usai menurunkan bantuan dan meninjau posko, kami segera melihat ke lokasi bencana. Kami berdiri di batas air, sementara sekitar sepuluh sampai dua puluh meter di depan kami, rumah-rumah warga sudah separuh terendam banjir. Di kaki kami, batas air terlihat jelas sekali turun naiknya dengan begitu cepat, membuat hati jadi merasa gentar. Takut air tiba-tiba naik dan menerjang kami.

Dari relawan posko kami mendapat penjelasan bahwa di rumah-rumah itu masih ada warga yang bertahan tinggal di lantai dua. Juga di rumah-rumah yang letaknya di belakang rumah-rumah itu, yang semakin dekat dengan Kali Ciliwung, yang rata-rata sudah hampir tenggelam lantai satunya. Mereka mempertaruhkan nyawa hanya karena takut hartanya dijarah oleh para pencoleng yang memanfaatkan keadaan.

Memilah pakaian layak pakai.
Lewat pukul 01, kami bertolak ke lokasi berikutnya, yaitu posko di Kampung Melayu Kecil – di sekitaran Kantor Kelurahan Bukit Duri. Karena kendaraan hanya bisa sampai di depan kelurahan, ya bantuan harus kami angkut sendiri ke lokasi – karena relawan di posko ini hanya ada dua orang, dan cukup jauh juga ke dalam. Lumayan seru juga kejadiannya. Dini hari, sekitar pukul 02, hujan, gelap – karena listrik dipadamkan, memanggul bantuan, kesandung-sandung, kejeblos-jeblos di lubang jalanan yang penuh air, dan bolak-balik. Puji Tuhan, kami tak mengeluh.

Setelah semua bantuan disampaikan, kami berbincang sebentar dengan Ibu Guru yang menjadi Ibu Posko, lalu pamitan untuk kembali ke posko. Namun sebelum beranjak pulang ke posko, kami menyempatkan melihat ke lokasi banjir yang letaknya dekat dengan jalan raya dan juga Kali Ciliwung. Kondisi rumah-rumah di situ tak jauh beda dengan yang di Bukit Duri Tanjakan 1, terendam lantai satunya. Lewat gang yang lurus menjulur menuju pinggir Kali Ciliwung, kami bisa melihat bagaimana derasnya arus air Kali Ciliwung. Sementara di sisi lain, kami melihat ke arah jalan raya yang menuju Terminal Kampung Melayu yang terendam sekitar satu meter dalamnya. Ada mobil yang terjebak banjir di sana, dan ditinggalkan.

Mendata dan meneliti obat-obatan.
Usai meninjau lokasi banjir, kami beranjak kembali ke posko. Setelah evaluasi sebentar dan merencanakan baksos lanjutan, nanti siang, kami segera membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing. 

Baksos Malam Berikutnya...
Rencananya, baksos dilaksanakan pada siang atau sore hari. Namun karena barang bantuannya baru datang pada petang hari, akhirnya baksosnya berlangsung malam hari lagi. Ya sudah. Mungkin memang sudah bakatnya, jadi pembaksos malam hari, hehehe.

Dari markas Recehan untuk Indonesia, kloter bantuan pertama diberangkatkan sehabis Maghrib, yaitu berupa pakaian layak pakai, air minum kemasan, teh, kopi, dan gula. Saya menyusul sekitar 30 menit berikutnya, sambil membawa roti yang baru datang dari pabrik. Kalau kemarin saya ‘diangkut’ bersama barang di mobil barang, kali ini saya ‘diangkut’ dengan sedan tapi sambil rebutan tempat di kursi belakang dengan dus-dus roti. Tak apa, yang penting sampai di tujuan.

Loading bantuan ke mobil.
Tiba di Posko Bantuan Banjir Ikatan Alumni SMA 8F_79, kami disambut hujan deras. Ini sepertinya menjadi menu sambutan yang biasa buat kami. Makanya kami turunkan saja dus-dus roti sambil hujan-hujanan. Di Posko, pakaian layak pakai dipilah-pilah sesuai kategorinya. Pakaian perempuan dewasa, remaja, anak-anak, bayi, atau laki-laki. Dari mulai stelan pakaian untuk ke resepsi sampai ke celana blue jeans yang robek dengkulnya. Semuanya ada dan dipilah, dan akan diberikan kepada yang berminat.

Sistem distribusi kali ini dilakukan dengan pembagian secara langsung kepada korban, yang datanya diperoleh dari petugas di lapangan. Sebagian dari penerima bantuan datang sendiri ke posko untuk mengambil jatahnya, dan yang lain disiapkan untuk diantarkan ke lokasi keberadaannya. Untungnya mereka yang datang sendiri ke posko, mereka bisa memilih pakaian layak pakai yang diperlukannya. Mau kaos, atau mau kemeja, mau celana panjang apa celana pendek, dan sebagainya. Begitu juga dengan obat serta bahan makanan.

Pengiriman bantuan dilanjutkan dengan sepeda motor.
Menjelang pukul 23, setelah semua paket bantuan disiapkan, kami bertolak ke lokasi sasaran bantuan, yaitu di tanggul Kali Ciliwung, wilayah Gudang Peluru. Mobil hanya bisa sampai di mulut jalan di atas tanggul. Jadi, bantuan harus dibawa ke posko atau tempat pengungsian dengan sepeda motor atau dengan jalan kaki. Karena lokasi parkir mobil berada dekat dengan tikungan Kali Ciliwung, maka kami menyempatkan untuk melihat ke kali itu. Wah, seram juga. Tikungan sungai yang lebar itu permukaannya sangat dekat dengan bibir tanggul. Arusnya deras dan suara airnya membuat hati ciut. Langsung saja saya berdoa panjang lebar, untuk diri saya sendiri, teman-teman, dan semua korban banjir, agar diselamatkan dari ancaman Kali Ciliwung yang sedang meluap.

Setelah memberikan bantuan ke posko atau tempat pengungsian, kami lalu meninjau ke lokasi bencana, ke bagian tanggul yang paling rendah yang bisa kami datangi. Dan di sana kami menemukan rumah-rumah yang di depannya menggenang air banjir. Kami kira, hanya jalan di depan rumah-rumah itu saja yang tergenang, tak tahunya ada yang menjelaskan kepada kami bahwa rumah-rumah yang kami lihat itu adalah lantai duanya. Artinya, lantai satu rumah-rumah itu berada di dalam air! Langsung saja kami bergerak mundur dari batas air. Takut kejeblos!

Posko atau tempat pengungsian di tanggul Kali Ciliwung.
Di lokasi itu, kami bertemu dengan salah satu anak korban banjir yang masih berstatus siswa SMA 79. Wah, pas! Para alumni bertemu dengan adik kelas yang masih sekolah. Maka, langsung saja salah satu rekan dari Recehan untuk Indonesia, yang alumni pertama dari SMA 79 – yang dulunya adalah SMA 8 Filial, didaulat untuk berfoto dengannya.

Yang saya kagumi dari anak itu ialah, ia tetap berkeinginan bisa masuk sekolah besok pagi. Padahal, untuk mencapai rumahnya, ia pasti harus berenang atau naik perahu. Selain itu, bisa jadi juga, pakaian seragam sekolahnya basah kena banjir, mengingat beberapa jam sebelum kedatangan kami, rumahnya terendam hingga lantai dua. Di tempat kami berdiri saat ini, katanya, tadinya air setinggi lutut. Kami jadi terharu sekali dengan semangat belajar anak itu.

Ini lantai dua. Lantai satunya di dalam air.
Tengah malam, barulah kami beranjak meninggalkan tempat itu dan kembali ke lokasi parkir mobil. Di sepanjang jalan tanggul itu, para korban banjir duduk-duduk menjaga air. Berjaga-jaga kalau-kalau air Ciliwung kembali meluap....

Sekitar pukul 01 kami telah berada kembali di Posko Bantuan Banjir, di Kebon Baru. Setelah membereskan posko, kami semua lantas membubarkan diri, pulang ke rumah masing-masing. Hanya beberapa orang saja yang tetap tinggal berjaga di posko.

Tiga generasi alumni dan siswa SMA 79.
Di rumah, setelah sholat Isya, saat akan membaringkan diri di tempat tidur, saya teringat kepada para korban banjir – yang mungkin masih berjaga-jaga di tanggul Kali Ciliwung. Saya tiba-tiba merasa amat malu. Karena, rasanya saya masih belum cukup bersyukur dengan karunia yang telah Tuhan berikan kepada saya ini....