Wednesday, January 25, 2012

Pesona Musim Gugur di Makam Dinasti Ming

Pemakaman ini dikelilingi pegunungan Yanshan.
HARUS saya akui, salah satu momen terindah menikmati musim gugur adalah tatkala saya menyusuri kompleks makam para raja Dinasti Ming, di Barat Laut Beijing, atau tepatnya di daerah Changping. Dikelilingi pegunungan Yanshan, pemakaman yang telah berumur kira-kira dua abad ini, punya pemandangan indah dan mengagumkan.

Deretan pohon dengan dedaunan yang mulai memerah, dihiasi hamparan salju di beberapa sudut tembok, membuat saya tidak menyesal menyempatkan diri mampir ke tempat ini.

Seperti halnya Tembok Cina yang super luas, makam 13 raja ini pun tersebar di tanah seluas 120 kilometer persegi. Namun, cuma tiga makam saja yang dibuka untuk umum, yaitu makam: Changling, Dingling, dan Zhaoling. Harga tiket untuk masuk ke kompleks makam ini 60 yuan (Rp. 75 ribu).


Barang-barang berharga milik kerajaan.
Dari tiga makam ini, saya mendatangi makam Dingling. Makam ini adalah makam pertama yang dibuat untuk raja Zhu Yijun bersama dua permaisurinya. Hamparan taman dan patung batu pahatan berbagai macam bentuk (kura-kura dan naga). Bentuk bagian depan istana sekaligus makam berbentuk kotak, sedangkan di bagian belakangnya lingkaran. Kabarnya ini mengikuti filosofi Cina yang menganggap surga bundar sedangkan dunia berbentuk kotak.

Untuk melihat makam raja, ternyata kita harus memasuki istana bawah tanah. Melalui lorong dengan langit-langit tinggi yang juga terbuat dari batu, istana ini jauh dari kesan kelam. Walau tidak ada pulasan emas dan cat merah, yang sering menjadi ciri khas bangunan di Cina, ukiran-ukiran di batu marmer tetap menampilkan khas Tiongkok.

Semua orang melempar uang ke tengah ruangan.
Sebelum menuju ruang peti raja diletakkan, saya melewati beberapa ruangan yang menampilkan tempat tidur marmer permaisuri, dan berbagai barang berharga kerajaan, seperti batu giok, mahkota raja yang terbuat dari emas, hingga cawan tembikar tiga warna kerajaan. Dan, pengalaman yang agak unik adalah, ketika memasuki aula sebelum ruang peti, semua orang melempar uang ke tengah ruangan.

Ketika memasuki makam, tiga peti besar terjejer.
Sebenarnya, saya tidak mengerti kenapa orang melakukan hal seperti itu, tetapi akhirnya saya pun mengikuti yang lain. Mudah-mudahan sih, lemparan koin ini untuk memancing banyak keberuntungan buat saya begitu keluar dari istana bawah tanah ini.

Dan, ketika memasuki makam, tiga peti besar terjejer. Yang melempar koin dan uang kertas semakin banyak. Wah, mungkin ini biar ketularan rezeki seperti raja kali ya. Saya bersama teman pun tidak mau kalah. Kami mengorek dompet dan melempar uang rupiah. Berharap rezeki rupiahnya juga berlimpah.

Berhubung musim gugur, pohon-pohon terlihat tinggal ranting.
Keluar dari makam, perut saya langsung mulas melihat pemandangan di sekeliling dinding makam. Berhubung musim gugur, pohon-pohon terlihat tinggal ranting. Namun, pohon-pohon ini terlihat seperti di lukisan ketika dipadukan dengan tanah di bukit yang berwarna-warni. Wajar jika di sepanjang dinding ini pun, banyak orang mengabadikan pemandangan indah ini. Terutama saya yang tinggal di negara yang tidak pernah mengalami musim gugur. (Syanne Susita)