Thursday, October 27, 2011

Bangsa yang Ramah

RASANYA memang ada yang salah dengan bangsa ini. Dulu, kita dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah. Kita selalu saling tolong menolong. Suka bergotong royong. Dan bahkan kerap memberi bantuan, meski tidak diminta - khususnya apabila ada yang mendapat musibah. Sekarang, di kendaraan umum banyak pemuda gagah duduk dengan cueknya, sementara di depan hidungnya ada ibu-ibu yang berdiri dengan repot dan susah-payah. Bahkan, tak sedikit yang berusaha segera menjauh dari lokasi apabila terjadi kecelakaan. Sebab kalau tidak, bisa diminta membantu membawa korban ke rumah sakit. Dan itu bisa jadi urusan yang sangat merepotkan! kata mereka, yang melakukan itu.
Jadi, apa yang telah terjadi dengan bangsa ini sebenarnya? Sudah punahkah rasa persaudaraan kita? Sudah lenyapkah jiwa sosial kita? Sudah lunturkah keramah-tamahan kita? Sudah... apakah kita sudah menjadi begitu tertindas oleh beban hidup, sehingga tak sempat lagi berpikir selain memikirkan kebutuhan, keperluan dan kepentingan diri kita sendiri? Rasanya... ini bukanlah kita....

Namun, peristiwa yang dipaparkan Yusuf Iskandar berikut ini adalah bukti nyata siapa kita sekarang ini (sebenarnya). Simaklah....
Suatu sore di sebuah restoran di Terminal A bandara Cengkareng. Seorang bule membeli sekaleng minuman ringan. Setelah dibayar lalu duduk dan siap menarik tuas pembukanya. Namun tiba-tiba diurungkan. Sang bule berdiri dan kembali ke kasir tempat di mana dia membayar dan menerima sekaleng minuman tadi, lalu bercakap dengan pelayan yang berdiri di sebelah kasir.
Sang bule menunjuk-nunjuk tuas dan bagian tutup kaleng minuman yang dibawanya. Entah apa yang dikatakannya, tapi dari mimiknya terlihat dia komplain atas sekaleng minuman itu. Sang pelayan yang menerima komplain terlihat mencermati dengan seksama bagian kaleng yang ditunjuk-tunjuk sang bule.
Sekian detik kemudian, sang pelayan hanya berkomentar pendek : “Oh…!” nyaris tanpa ekspresi, tanpa menatap wajah sang bule, lalu ngeloyor berbalik tanpa permisi sambil membawa kaleng yang dipermasalahkan sang bule.
Tidak lama kemudian, sang pelayan kembali menemui sang bule dengan membawa sekaleng minuman. Disodorkannya sekaleng minuman sebagai pengganti yang tadi. Juga nyaris tanpa ekspresi, tanpa menatap wajah sang bule dan tanpa sepatah kata pun diucapkannya. Agaknya, sang bule puas dengan penggantian kaleng minuman yang dibelinya, dan kemudian berjalan menuju tempat duduknya semula.
Saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun mencermati adegan pantomim satu babak itu saya bisa menangkap bahwa ada yang tidak beres dengan sekaleng minuman yang dibeli sang bule, lalu komplain dan minta ganti.
Tinggal membekas di pikiran saya, bagaimana mungkin kejadian tadi berlangsung begitu cepat, tanpa basa-basi sepatah dua patah kata, tanpa ekspresi penyesalan atau keramahtamahan. Lebih mengherankan lagi, tanpa senyum secuil pun, apalagi sepotong. Semakin parah lagi, tanpa kata-kata maaf atau terima kasih. Semakin saya tidak habis pikir, kasir yang berdiri di samping sang pelayan pun cuek-bebek seperti tidak pernah terjadi apa-apa di sampingnya, padahal dia tidak sedang melayani siapapun.
Di manakah keramahtamahan itu?
Taruhlah sang pelayan tidak paham omongan coro londo yang diucapkan oleh sang bule, tapi setidaknya pasti pahamlah kalau sang bule sedang komplain. Kalau ada komplain pasti karena ada sesuatu yang dianggap tidak seharusnya. Tidak terpikirkah untuk sedikit berbasa-basi minta maaf, lalu mengucapkan terima kasih sesudahnya. Toh sang pelayan ini seorang gadis. Sejelek-jeleknya paras gadis Indonesia ini rasanya masihlah terlihat manis kalau tersenyum, apalagi kalau mau agak dimanis-maniskan sedikit. Lain halnya kalau pelayannya merangkap satpam berkumis tebal, itu pun masih manis juga kalau tersenyum.
Kelihatannya kejadian seperti ini bukan kali ini saja terjadi. Di banyak tempat, di banyak waktu yang berbeda, konon kabarnya kejadian semacam ini banyak dijumpai. Pelit kata “maaf”, pelit kata “terima kasih”, pelit senyum. Padahal kejadian semacam itu bukanlah sebuah kesalahan yang teramat fatal, bukan juga peristiwa memalukan. Tapi karena solusinya tidak manis (dan tidak ramah), maka kesan yang dibawa pulang oleh sang bule bisa jadi adalah kenangan tidak manis yang akhirnya meninggalkan kesan tidak menyenangkan pula.
Memang kita tidak boleh menggeneralisir bahwa seperti itulah keramahtamahan yang kita miliki. Tapi kejadian itu setidaknya bisa menjadi cermin. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, malu rasanya jika ingat keramahtamahan yang saya temukan pada keseharian bangsa lain, di negara lain, tapi pasti bukan di Republik Mimpi.
Karena nila setitik, jangan-jangan rusak susu se-genthong. Pupuslah harapan untuk layak dipertahankannya predikat bangsa yang ramah. Apalagi kalau bagi sang bule hari itu adalah hari terakhirnya di Indonesia. Maka kesan terakhir itulah yang akan terus dikenang oleh sang bule, entah wisatawan, entah pelaku bisnis, entah pekerja ilegal.
Sekilas kejadian yang barangkali tidak berarti apa-apa. Tapi entah kenapa kok begitu melekat di ingatan saya. Barangkali saya terlalu khawatir, kalau ada yang tanya: “Dimanakah keramahtamahan itu?”. Maka terpaksa saya harus menjawab: “Tertinggal di buku bacaan wajib Sekolah Dasar….”, yang wajib dibeli dengan harga wajib mahal pula. Sementara itu tidak wajib dibaca, tidak wajib diamalkan, apalagi wajib diteladani....