Sunday, October 30, 2011

Berbagilah, Demi Nuranimu

KETIKA pada Selasa sore gempa yang berpusat di selatan Tasikmalaya mengguncang bumi, orang-orang yang merasakan kejadian alam itu segera berlompatan keluar rumah. Begitu juga penduduk Jakarta. Baik yang saat itu sedang berada di rumah maupun yang sedang bekerja di gedung-gedung perkantoran. Mereka semua bubar, melarikan diri dari segala yang bisa membahayakan diri mereka dan berkumpul di tempat terbuka yang dianggap aman.

Sebagian lalu bersyukur karena terhindar dari bencana itu. Namun di Tasikmalaya dan sekitarnya, kehancuran dan kematian tak berhasil dielakkan. Dan mereka yang selamat, menyaksikan apa yang terjadi di sana dengan dada sesak oleh rasa iba. Lalu dengan hati tulus ikhlas, mengulurkan bantuan untuk sekadar meringankan.
Akan tetapi sebagian yang lain, yang punya semilyar alasan, merasa tak perlu memberi bantuan apa pun. “Soalnya itu bantuan belom tentu sampe,” ungkap seseorang, sambil menyuruh pelayan mengangkat hotplate yang masih berisi sepotong besar steak yang tak dimakannya - karena takut kolesterolnya naik, kemarin siang. "Daripada dimakan orang, ya mendingan gue makan sendiri!"


Orang yang lain, dengan wajah tanpa dosa, bilang, “Bukannya nggak mau bantu. Tapi bentar lagi ‘kan Lebaran. Anak gue tiga. Adek gue dua. Keponakan gue banyak. Duit yang ada aja rasanya masih bakal kurang. Tau sendirilah, harga-harga kalo mau Lebaran naiknya gila-gilaan!”
Setiap muslim, baik yang saat ini lagi menjalankan ibadah puasa maupun (yang dengan segala alasan) tidak menjalankan perintah wajib itu, berkeyakinan bahwa dirinya akan mengalami Lebaran yang beberapa belas hari lagi ini akan datang. Padahal, jasad-jasad yang tewas tertimbun di Cikangkareng, juga mempunyai keyakinan yang sama – sampai pada beberapa detik sebelum gempa dan runtuhan menumpas hidupnya.
Apa masih yakin besok bukan giliran kita yang dilibas bencana?
Orang yang benar-benar yakin bahwa Tuhan akan membalas setiap perbuatan yang diikhlaskan atas namanya, pasti yakin bahwa setiap sen harta yang disedekahkan kepada mereka yang patut diberi, tidak akan lenyap begitu saja – seperti ditelan setan. Semuanya akan kembali bersama kasih sayang Tuhan, dalam bentuk yang paling kita butuhkan – yang barangkali berupa tercegahnya kita dari mara bahaya atau bencana.
Jadi, kalau kita sudah cukup kenyang dengan setengah piring nasi, mengapa tak kita sedekahkan saja yang setengahnya?