Monday, December 5, 2011

Diakah Jodohmu?

DALAM sebuah hubungan, ada banyak kompromi yang harus bisa diterima. Karena kompromi itu yang akan menjadi jembatan atas tiap-tiap masalah yang timbul. Sebab tanpa adanya kompromi, sikap mau menang sendiri, dan juga sikap merasa benar sendiri, menjadi landasan dalam setiap pertimbangan di kedua belah pihak. Akibatnya, jadi tak ada yang mau menerima kenyataan bahwa sebenarnya ada yang benar dan ada yang keliru di antara keduanya. Nah, kalau sudah demikian, jangan soal jodoh yang dipersalahkan, yaitu dengan pernyataan, "Kayaknya... dia memang bukan jodohku, deh."

Jadi, mari membina hubungan dengan nalar dan kompromi. Dia mungkin saja menjatuhkan kaus kaki kotor di lantai, tetapi paling tidak, dia membukakan pintu buat Anda. Dalam urusan asmara, Anda memang harus menerima kebaikan beserta keburukan pasangan Anda secara sekaligus. Tetapi ketika berkencan dengan seseorang yang mungkin saja merupakan jodoh Anda, bagaimana cara menentukan bahwa dia adalah orang yang ditakdirkan akan menghabiskan sisa hidupnya berdua dengan Anda?
Kami menemui para ahli untuk mengetahui cara menentukan, apakah seseorang itu benar-benar jodoh Anda atau bukan. Berikut ini lima tesnya:
1. Tes ksatria
Penulis buku Patti Stanger mengatakan, sifat ksatria masih berlaku dalam menentukan apakah seseorang itu jodoh Anda atau bukan. “Hal-hal seperti membukakan pintu mobil, atau segera memberikan porsi makanan Anda (ketika berbagi makanan di restoran), itulah hal penting yang harus dilihat dalam menentukan apakah dia akan memperlakukanmu dengan baik.”

Dalam hal ini, tindakan lebih berarti dari kata-kata. “Kata-kata sering dijadikan pengganti tindakan romantis, tetapi sesungguhnya kosong tanpa tindak lanjut,” kata pekerja sosial Andrew Spanswick.
2. Tes pertemanan
Sebuah hubungan asmara yang baik membutuhkan koneksi jiwa dan raga. “Maukah Anda nongkrong bersama seseorang bahkan bila mereka tidak menarik secara seksual?” kata ahli hubungan asmara Lindsay Kriger.

Dan Anda harus melihat lebih dari sekadar permukaan. “Tampang cantik/ganteng bisa memudar, tetapi kepribadian yang buruk itu abadi,” kata Linday. “Hubungan yang terbaik adalah ketika pasangan bisa menjadi sahabat,” kata Stanger.
3. Tes uang
Bukan kejutan bila statistik menunjukkan, banyak pernikahan retak karena pertengkaran seputar masalah uang. Jadi, Stanger menyarankan Anda mencari tahu di mana posisi Anda sebelum menikah. “Bagaimana caramu menghabiskan uang? Bagaimana cara dia menghabiskan uang? Apakah sama/berbeda? Setujukah Anda bila dia lebih sering menabung, sementara Anda lebih sering belanja? Inilah pertanyaan penting sebelum berkomitmen,” kata Stanger.

“Kesembronoan dalam masalah keuangan akan menciptakan stres seumur hidup,” kata ahli psikoterapi asal California Selatan Tina Tessina. “Jika dia memakai uang untuk berjudi atau membeli mainan terbaru, padahal Anda berusaha keras berhemat, maka hubungan itu tidak akan berhasil,” katanya menambahkan.
4. Tes nilai keluarga
Apakah kalian menginginkan jumlah anak yang sama? Apakah dia mengharapkan Anda pindah agama dari Katolik ke Yahudi? “Dari soal agama hingga mengurus rumah, seks dan anak-anak, kalian harus memiliki nilai dan prinsip bersama sebelum berkomitmen,” kata pakar hubungan ternama Kailen Rosenberg.

“Banyak hal yang memicu konflik dalam hubungan berasal dari perbedaan nilai-nilai prinsip yang tidak didiskusikan sebelumnya,” kata Kriger.
5. Tes ‘Titanic’
Stanger menyodorkan satu skenario imajiner. Bila kalian berdua menumpang kapal yang tiba-tiba tenggelam, dan Anda kedinginan di laut, bersediakah dia memberikan potongan kayu supaya nyawa Anda selamat? Ini terdengar serius tetapi “Cinta Titanic” (seperti sebutan Stanger) adalah kunci bagi hubungan asmara yang kekal.
“Bila dia mencintaimu sepenuh jiwa dan Andalah satu-satunya yang dia perhatikan, itulah bukti bahwa Anda merupakan prioritas pertama dia,” kata Stanger.