Thursday, December 29, 2011

Tradisi Sadis

Ritual Seppuku atau Harakiri.
BOLEH percaya boleh tidak, di zaman yang sudah serba modern ini, ternyata masih ada beberapa negara yang tetap memegang teguh tradisi dari nenek moyang mereka, hanya demi sebuah pengakuan akan harga diri. Walaupun harga diri, atau martabat, memang sangat penting bagi setiap orang, akan tetapi cara menegakkannya haruslah dengan benar secara nalar dan hukum kemanusiaan.

Karena apa yang mereka lakukan itu, berdasar tradisi tersebut, terdengarnya mengerikan dan aneh untuk dilakukan. Namun begitu, masih juga ada yang mau menjalankan tradisi-tradisi sadis itu, yang dianggap sebagai suatu bentuk dari penegakan kehormatan yang luar biasa di dalam lingkungan masyarakatnya.

Berikut ini adalah beberapa tradisi aneh dan mengerikan tersebut, yang hingga kini masih dijalankan.

Hasil foot binding.
1. Foot Binding, China
Foot Binding atau pengikat kaki adalah sebuah tradisi yang tujuannya menghentikan pertumbuhan kaki perempuan, yang berasal dari sejak zaman dulu di daratan China.

Pengikatan kaki ini biasanya dimulai sejak anak berumur 4-7 tahun. Pengikatan kaki dilakukan dengan cara membalut kaki dengan ketat,  menggunakan kain sepanjang 10 kaki dan lebar 2 inci, melipat empat jari kaki ke bagian bawah kaki, dan menarik ibu jari kaki mendekati tumit.

Seperti ini bentuk kaki hasil foot binding.
Ini dilakukan untuk membuat kaki jadi lebih pendek, dan juga kaki dipaksa untuk memakai sepatu yang semakin kecil. Tradisi ini bermakna, semakin kecil kaki seorang gadis, maka akan semakin cantik ia dipandang. Panjang  perlakuan ini, maka kaki seorang gadis hanya akan berkisar 10-15 sentimeter saja.

2. Eunuchs atau Kasim, Tiongkok
Kasim: Tak tersisa alat kelaminnya.
Kebudayaan Eunuchs atau Kasim, yaitu seorang laki-laki yang dihilangkan kesuburannya karena kemaluannya dibuang dengan sengaja.

Pengebirian ini dilakukan dengan sengaja, untuk menghasilkan orang kasim yang berasal dari kota Lagash, di Sumeria, pada abad ke-21 SM. Sejak itu, selama bertahun-tahun orang kasim bekerja di berbagai kebudayaan, seperti pelayan istana, atau pelayan rumah tangga, dan lainnya.

Di Tiongkok kuno, pengebirian adalah salah satu bentuk hukuman tradisional (hingga Dinasti Sui), dan sarana untuk mendapatkan pekerjaan di lingkungan dan kalangan istana Kaisar. Pada akhir Dinasti Ming, ada 70.000 orang kasim di Istana kaisar.

Jabatan seperti itu sangat berharga, dan orang-orang kasim tertentu berhasil mendapatkan kekuasaan yang demikian besar, sehingga melampaui kekuasaan perdana menteri, sehingga pengebirian diri sendiri harus dilarang.

Terjun ke dalam api pembakaran mayat suami.
3. Sati, India
Tradisi Sati, atau bakar diri hidup-hidup, dianggap sebagai lambang kesalehan, sekaligus menunjukkan kepemilikan laki-laki atas perempuan. Biasanya dilakukan oleh perempuan yang berkasta tinggi, dan dipercaya hanya perempuan pilihan yang dapat melakukannya.

Tradisi Sati dipandang sebagai alternatif yang lebih baik, ketika seorang istri ditinggal mati oleh suami, daripada mereka mengalami penyiksaan dari saudara-saudara ipar, yang akan menyalahkan perempuan itu sebagai penyebab kematian suaminya.

Sati menjadi tradisi tidak hanya berlaku bagi istri, tetapi juga bagi istri simpanan, saudara ipar, dan bahkan ibu, untuk mengorbankan dirinya diapi pembakaran jenasah laki-laki yang memiliki mereka. Pelaku Sati diagungkan sebagai pahlawan, sesuai dengan ajaran hindu.

4. Seppuku, Jepang
Prosesi seppuku atau harakiri. Berdiri di belakang,
kaishaku siap memenggal dengan samurai.
Seppuku disebut juga Harakiri, yaitu salah satu tradisi yang menjadi kebanggaan masyarakat Jepang, yang berasal dari kata hara yang berarti perut, dan kiru yang berarti memotong.

Harakiri juga dikenal dengan istilah seppuku. Kebiasaan harakiri ini dilakukan oleh prajurit berkelas dari kalangan samurai, sebagai bukti kesetiaan.

Bunuh diri yang dilakukan para Samurai ini sangat menyiksa, karena si pelaku harus menunggu kematian karena kehabisan darah setelah merobek dan mengeluarkan isi perutnya.

Ada ritual khusus yang harus dilakukan oleh Samurai, jika ingin melakukan harakiri. Ia harus mandi, menggunakan jubah putih, dan makan makanan favorit. Pelaku harakiri ditemani seorang pelayan (kaishakunin), yang ia pilih sendiri. Kaishakunin ini bertugas membuka kimononya, dan mengambilkan pisau yang akan digunakan.

Jika pelaku harakiri menjerit atau menangis kesakitan, saat ia menusuk dan mengeluarkan isi perutnya, hal tersebut dianggap sangat memalukan bagi seorang Samurai. Karena itu, Kaishaku bertugas mengurangi penderitaan itu, dengan mempercepat kematiannya dengan memenggal kepala si pelaku.

Benar-benar mengerikan....