Monday, August 1, 2011

Jangan Berbuka dengan Kolak!

Harusnya kita memahami hal ini, yaitu bahwa kalau kita harus mau mengikuti cara hidup Rasulullah SAW., itu sebenarnya bukan semata-mata lantaran beliau adalah pimpinan kita, melainkan karena beliau adalah contoh hidup buat kita dalam banyak hal – yang tentu saja atas arahan Allah SWT. sebagai pencipta kita, supaya kita bisa hidup dengan benar, sehat dan selamat. Begitu juga dalam cara memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar, yaitu makan. 

Karena urusan makan-memakan ini, yang harusnya menjadi aktivitas penunjang hidup, tapi akhirnya kok malah jadi masalah dalam hidup. Sebab, ternyata makanan itu akhirnya malah jadi sumber penyakit. Mengapa? Karena pada akhirnya, kita makan bukan lagi buat menunjang hidup, tapi lebih sering justru untuk memenuhi tuntutan syahwat, sehingga kita suka makan dengan berlebihan, dan parahnya lagi, juga memakan makanan yang sebenarnya tidak baik buat kesehatan kita.
Itu sebabnya kita disuruh berpuasa. Salah satu tujuannya tentulah untuk mengistirahatkan sistem pencernaan dan menguras stock yang tertimbun di badan kita – dalam bentuk lemak itu. Namun bersamaan dengan itu, tentunya kita juga harus menyadari bahwa upaya itu harus dibarengi dengan tata cara pelaksanaannya yang benar. Mengingat pencernaan habis diistirahatkan setengah hari lebih, maka waktu mau digunakan lagi ya harusnya dengan mengikuti tata cara yang benar. Dan Rasulullah SAW. memberi contoh dengan berbuka pakai air putih dan kurma. Mengapa? Karena kurma mengandung banyak kadar gula tapi karbohidratnya mudah dicerna. Nanti, setelah lambung kita mulai terbiasa untuk mengolah makanan lagi, barulah boleh kita isi dengan makanan yang lebih berat.
Akan halnya kolak, yang umum kita jadikan sebagai makanan buka puasa, sebenarnya termasuk dalam kategori makanan yang berat buat lambung kita. Sebab, kolak mengandung gula dan lemak yang sangat tinggi, sehingga lambung kita akan langsung bekerja keras untuk mencernanya. Karena itu, kolak menjadi makanan yang tidak baik untuk lambung sebagai makanan buka puasa. Hal tersebut diungkapkan Wied Harry Apriadji, ahli nutrisi, dalam Talk Show Cara Mudah Mengikuti Food Combining yang dilangsungkan di Balai Sidang beberapa waktu lalu.
“Dalam berpuasa yang harus ditekankan adalah nilai spiritualnya. Makanya, puasa akan menjadi percuma kalau kita hanya mengubah jam makan yang harusnya siang menjadi malam,” ujar Wied Harry.
Dalam analisa nutrisi disimpulkan, orang yang hanya minum air putih selama 40 hari tidak akan sakit dan meninggal. Kebutuhan nutrisinya juga akan terpenuhi. Mengapa? “Karena kalau berpuasa kita tidak banyak keinginan, sehingga nutrisi tidak banyak terkuras pula. Saat berpuasa semuanya akan lebih tenang, akibatnya nutrisi lebih dihemat,” kata Wied Harry.
Wied pernah menerapkan pola makan Food Combaining dengan cara mengonsumsi buah dan sayur secara terpisah, dan porsinya sama dengan asupan karbohidrat serta protein ke dalam tubuh. Selain itu, protein dan karbohidrat juga tidak dimakan bersamaan. Cara makan seperti itu, dibuat dengan mempertimbangkan lamanya proses pencernaan dalam tubuh, agar nutrisi zat makanan dapat diserap secara sempurna. Pola makan semacam itu tetap ia terapkan saat menjalankan puasa. Meskipun porsi makan menjadi lebih sedikit. Namun, dengan penyerapan yang maksimal, tubuh tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.