Monday, August 8, 2011

Tawa Penjilat

Anda pernah tertawa untuk menyenangkan hati Boss, yang menceritakan pengalamannya yang menurutnya lucu, padahal sama sekali tidak lucu? Kalau mau jujur, kita pasti tak sanggup menghitung sudah berapa kali kita melakukan itu. Tapi itulah kita, manusia, yang tidak pernah lepas dari perbuatan basa-basi, dan juga menjilat atasan demi suatu pamrih. Nah, kisah di bawah ini adalah salah satu bukti bahwa tertawa untuk menyenangkan hati Boss adalah hal yang hampir kita anggap biasa dan wajar.

Suatu hari, ketika Boss pulang dari suatu pertemuan dengan wakil pemerintah, Boss – yang rupanya moodnya lagi bagus, ingin menceritakan sebuah kejadian yang dianggapnya lucu. Maka, seperti biasanya kalau ia lagi ingin “menggembirakan” kartyawannya, ia panggil semua karyawan untuk berkumpul di ruang rapat. Setelah semua kumpul, maka berceritalah dia dengan penuh antusias. Wah, semua karyawannya tertawa. Geli. Kecuali Mbak Ani. Dia hanya memandang Boss dengan tatapan biasa. Kesannya malah seperti merasa heran.
Mengetahui hal itu, Boss meminta tetap tinggal di ruang meeting sementara yang lain keluar. Dengan wajah sedih, beliau bertanya kepada Mbak Ani, “Ada apa, Ani? Hari ini kamu tidak terlihat bahagia. Apa cerita saya kurang lucu?”
Dengan kalem, Mbak Ani menjawab, “Maaf, Pak, mulai tanggal satu besok, saya sudah bukan pegawai Bapak lagi. Jadi, buat apa lagi saya ikut-ikutan tertawa buat menjilat Bapak?”