Thursday, August 11, 2011

Surat dari Sang Maha Pencipta

Saat kau bangun di pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada-KU, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapat-KU atau bersyukur kepada-KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin.
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-KU, tetapi engkau terlalu sibuk.

Di suatu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU pikir engkau akan berbicara kepada-KU tetapi engkau berlari ke telepon, dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru. AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu AKU pikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepada-KU.
Sebelum makan siang, AKU melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-KU. Itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu, untuk sekadar menyebut nama-KU, atau untuk berterima kasih atas rejeki yang telah KU-berikan. Engkau hanya melihat kepada orang-orang di sekeliling, pada tiga atau empat meja, yang berbicara dan menyebut nama-KU dengan lembut sebelum mereka mulai menyantap rejeki dari-KU. Dan engkau tetap tidak tertarik untuk meniru atau melakukannya. Yah... tak apa-apa. Masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepada-KU, meski saat pulang ke rumah engkau kelihatannya seakan-akan merasa ada banyak hal yang harus engkau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, AKU tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak, hanya saja engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yang ditampilkan. Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu, tetapi tetap saja engkau tak berbicara kepada-KU.
Saat tidur, KU-pikir kau merasa terlalu lelah, sehingga setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan lantas tertidur tanpa sepatah pun nama-KU kau sebut. Tapi tidak mengapa, karena mungkin engkau tak menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu. AKU telah bersabar lebih lama dari yang kausadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, doa, pikiran atau ucapan syukur dari hatimu.
Baiklah... engkau sudah bangun kembali, dan kembali pula AKU menanti dengan penuh kasih sayang bahwa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk meyapa-KU. Tapi yang KU-tunggu... ah, ternyata tak jua kau menyapa-KU. Dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, hingga hari berganti lagi, kau masih tak mengacuhkan AKU. Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, dan tak ada rasa, tak ada harapan serta keinginan untuk bersujud kepada-KU.
Apakah salah-KU padamu? Rejeki yang AKU limpahkan, kesehatan yang AKU berikan, harta yang AKU relakan, makanan yang AKU hidangkan, anak-anak yang AKU rahmatkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada-KU? Percayalah, AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa-KU, memohon perlindungan-KU, dan bersujud menghadap-KU.
Yang selalu menyertaimu di setiap waktu,
Allah SWT.