Friday, November 11, 2011

Film Pertama Indonesia: Darah dan Doa

BICARA soal film di zaman awal berdirinya Republik Indonesia, pastinya tidak akan lepas dari nama Usmar Ismail. Karena, Usmar Ismail adalah sineas yang bisa dibilang sebagai peletak pondasi dari perfilman nasional. Dua karyanya lahir tak lama setelah proklamasi, yaitu “Harta Karun” dan “Tjitra” yang dirilis pada tahun 1949. Namun tonggak sejarah film Indonesia baru dimulai pada tahun berikutnya, ketika Usmar Ismail memproduksi film “Darah dan Doa”. Sehingga tanggal 30 Maret, yang merupakan hari pertama syuting Film Darah dan Doa, ditetapkan sebagai Hari Film Nasional oleh Dewan Film Nasional.

Film Darah dan Doa, yang dalam bahasa Inggris: The Long March (of Siliwangi) atau Blood and Prayer ialah sebuah film Indonesia karya Usmar Ismail yang dibintangi oleh Faridah. Film ini merupakan film Indonesia pertama yang secara resmi diakui dan diproduksi oleh Indonesia, sebagai sebuah negara, setelah berakhirnya Perang Kemerdekaan Indonesia. 
Film ini diproduksi oleh Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), disutradai dan diproduseri Usmar Ismail. Tanggal syuting pertama film ini, 30 Maret 1950, kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional, berdasarkan Keppres Nomor 25/1999. Kisah film ini berasal dari skenario penyair Sitor Situmorang, yang menceritakan seorang pejuang revolusi Indonesia yang jatuh cinta kepada salah seorang Belanda, yang menjadi tawanannya.
Film ini berkisah tentang perjalanan panjang (long March) prajurit divisi Siliwangi RI, yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula, dari Yogyakarta ke Jawa Barat, setelah Yogyakarta diserang dan diduduki pasukan Kerajaan Belanda lewat Aksi Polisionil. Rombongan hijrah prajurit dan keluarga itu dipimpin oleh Kapten Sudarto yang diperankan Del Juzar. Perjalanan ini diakhiri pada tahun 1950, dengan diakuinya kedaulatan Republik Indonesia secara penuh.




Cerita film ini lebih difokuskan kepada kehidupan Kapten Sudarto, yang dilukiskan bukan sebagai pahlawan tetapi sebagai manusia biasa. Meski sudah beristri di tempat tinggalnya, namun selama di Yogyakarta, dan juga dalam perjalanannya, ia terlibat cinta dengan dua gadis. Ia sering tampak seperti peragu. Pada waktu keadaan damai datang, ia malah harus menjalani penyelidikan, karena adanya laporan dari anak buahnya yang tidak menguntungkan dirinya di sepanjang perjalanan.