Monday, November 7, 2011

Gendong aku, sampai ajalku tiba….

Perkawinan itu laksana rumah, dan cinta adalah pintunya. Cinta (pintu) itulah gerbang antara dunia luar dan kehidupan pribadi kita (dalam perkawinan). Ketika kita merasa dunia luar tidak lagi nyaman, maka kita akan menginginkan rumah (kehidupan perkawinan) yang di dalamnya terdapat janji kehangatan dan kenyamanan. Dan pada saat itu, pintu menjadi sangat penting. Karena di belakangnyalah tujuan kita itu berada. Karena ia gerbang menuju ke sana. Namun seringkali, apabila kita sudah berada di rumah, dan sang waktu diam-diam terus mengikis rasa hangat dan nyaman dari hati, maka kita lantas mulai menginginkan dunia luar di balik pintu itu. Tak jarang kita, tanpa pikir panjang, segera membuka pintu itu dan melangkah keluar. Pergi. Terkadang tak pernah ingin kembali lagi. Dan tidak jarang pula, ketika kita ingin kembali, ternyata pintu itu telah terkunci untuk kita.

Tulisan berikut adalah sebuah kisah tentang 'rumah dan pintu' itu, yang mudah-mudahan bisa menjadi teladan bagi perkawinan Anda. Silakan disimak.
Suatu malam, ketika aku pulang, istriku menghidangkan makan malam untukku. Aku memegang tangannya dan berkata, "Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Istriku lalu duduk di sampingku, menemaniku yang menikmati makan malam dengan tenang. Pada saat itu, sesungguhnya aku tiba-tiba tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Rasanya, kata-kata sulit sekali untuk keluar dari mulutku.
Aku ingin menceraikan istriku ini, dan untuk bisa mengungkapkan itu, rasanya aku harus mengerahkan seluruh keberanianku. Namun nyatanya, ketika hal yang amat berat itu berhasil kusampaikan, istriku sama sekali tak terganggu dengan pembicaraanku. Malah, dia balik bertanya kepadaku dengan tenang, "Mengapa?" Aku tergagap dan menolak menjawabnya. Dan itu membuatnya sungguh marah kepadaku. Maka malam itu kami jadi tidak saling berbicara lagi. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin tahu alasan di balik keinginanku untuk bercerai.

Untuk menebus perasaan bersalah, aku membuat sebuah surat pernyataan persetujuan untuk bercerai, dengan kompensasi istriku dapat memiliki rumah kami, mobil, dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Namun dengan marah istriku merobek surat itu. Sungguh, aku tidak bisa mengerti, bagaimana perempuan yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku itu, kini telah menjadi orang yang asing di hatiku. Dan aku minta maaf kepadanya karena itu, juga karena dia telah membuang waktunya 10 tahun bersamaku, serta untuk semua usaha serta energi yang diberikannya selama menjadi pendampingku. Istriku menangis lagi. Namun bagiku, tangisannya sekarang sudah tidak berarti apa-apa lagi. Selain itu, aku juga tak mungkin menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane, perempuan simpananku, bahwa aku sungguh mencintainya. Dan karena itu, keinginanku untuk bercerai dengan istriku ini telah menjadi amat bulat.
Hari berikutnya, ketika aku kembali ke rumah sedikit larut, kudapati istriku sedang menulis sesuatu di atas meja, di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam, tapi langsung pergi tidur karena rasa mengantuk yang tak tertahankan, akibat rasa lelah sesudah seharian bertemu dengan Jane. Ketika terbangun, kulihat istriku masih duduk di samping meja itu dan masih terus juga menulis. Aku tidak menghiraukannya, dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya, istriku menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam itu kepadaku. Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya meminta waktu sebulan sebelum perceraian. Dia memintaku, dalam sebulan itu, kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami istri. Alasannya sangat sederhana. Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu, sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami. Selain itu, dia juga meminta agar aku mau menggendongnya, untuk mengenang kembali saat-saat manis pada pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu, dari kamar tidur sampai depan pintu, setiap pagi.
Aku pikir dia sudah gila. Atau ingin mempersulit proses. Akan tetapi, karena tak mau mundur dari niat menceraikannya, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah, dan juga demi perceraian yang kuinginkan. Maka aku menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. 
Ketika bertemu Jane, aku menceritakan kepadanya mengenai hal itu. Dan Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya, tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan," kata Jane.
Ketika pertama kali aku menggendong istriku, aku merasa agak canggung dan kaku, soalnya kami memang tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri belakangan ini. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan di belakang kami. "Wow, papa menggendong mama." Sambil memelukku dengan erat, istriku berkata, "Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita." Aku mengangguk. Di depan pintu rumah, aku menurunkannya. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya, sedangkan aku mengendarai mobil sendirian, ke kantorku.
Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Istriku merapat, melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuhnya. Tiba-tiba aku menyadari, bahwa sudah cukup lama aku tidak memperhatikan wanita ini dengan seksama. Dan aku juga menyadari kalau dia tidak muda seperti dulu lagi. Ada bintik-bintik kecil di wajahnya. Rambutnya pun sudah mulai beruban. Namun entah mengapa, hal itu justru membuatku mengingat bagaimana pernikahan kami dulu.
Pada hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku mulai merasakan kedekatan. Inilah perempuan yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Sudah pasti aku tidak menyampaikan adanya perubahan perasaanku ini, kepada Jane.
Suatu hari, aku memperhatikan istriku yang sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Dia sedikit mengeluh, "Semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang." Dan itu membuatku jadi tersadar, bahwa dia memang semakin kurus. Itu sebabnya kenapa aku dapat dengan mudah menggendongnya. Aku lantas menduga, barangkali hal itu karena dia banyak memendam luka dan kepahitan hidup di hatinya, karena aku. Sehingga, dengan rasa bersalah dan menyesal, aku mengulurkan tanganku, menyentuh kepalanya.
Tiba-tiba putra kami muncul dan berkata, "Papa, sekarang saatnya untuk menggendong dan membawa Mama." Bagi putraku, melihatku menggendong dan membawa mamanya, menjadi peristiwa yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan lalu memeluk erat tubuhnya, penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku dari peristiwa yang bisa memengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai.
Aku lalu mengangkat istriku dengan kedua tanganku, berjalan keluar dari kamar tidur kami, melalui ruang santai, sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis, layaknya suami istri yang harmonis. Aku pun memeluk erat tubuhnya, seperti momen pada hari pernikahan kami, 10 tahun yang lalu. Akan tetapi, tubuhnya yang sekarang terasa ringan ini membuatku jadi sedih.
Pada hari terakhir, aku menggendong istriku dengan kedua lenganku, aku susah bergerak meski cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluknya erat sambil berkata, "Aku tidak pernah memperhatikan selama ini, ternyata hidup pernikahan kita telah kehilangan keintiman satu dengan yang lain."
Saat mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku, aku memikirkan banyak hal yang membuatku harus mengambil keputusan-keputusan. Maka aku mampir ke tempat Jane. Aku melompat keluar dari mobilku dan meninggalkannya dengan tanpa mengunci pintunya. Aku begitu tergesa-gesa, karena aku tak ingin ada sesuatu pun yang akan membuatku mengubah pendirian dan keputusanku. Setengah berlari aku naik ke lantai atas. Jane membukakan pintu dan aku langsung berkata kepadanya. "Maaf Jane, aku tidak ingin menceraikan istriku."
Jane terpana, memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan, dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Aku mengelak dan berkata, "Maaf Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memaknai setiap momen kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling menyintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari, sejak aku menggendongnya sebagai syaratnya itu, aku ingin terus menggendongnya sampai hari kematian kami."
Jane sangat kaget mendengar ungkapan keputusanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku, pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah toko bunga di jalan yang biasa kulalui kalau mau ke kantor, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjaga toko bunga bertanya, apa yang akan kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, "Aku akan menggendongmu, setiap pagi, sampai kematian menjemput."
Petang hari, ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, dan sebuah senyum bahagia menghias wajah, aku berlari masuk rumah. Aku ingin bisa segera bertemu dengan istriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya, untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami. Namun ketika tiba di kamar, apa yang kudapati? Ternyata istriku telah meninggal dunia, terbaring pulas selamanya di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama 10 tahun pernikahan kami. Ia tak akan pernah bangun lagi untuk mendampingiku menjalani hari-hari yang baru....
Aku baru tahu kalau istriku selama ini berjuang sendirian melawan kanker ganas yang telah menggerogoti dirinya, berbulan-bulan, tanpa sepengetahuanku, karena kesibukanku menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku ternyata sudah tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun begitu, dia masih mau berusaha menyelamatkanku dari pandangan negatif, yang mungkin lahir dari putra kami, karena aku menginginkan perceraian.
Barulah aku menyadari, betapa berharganya sebuah pernikahan di saat kita bisa melihat atau mengingat apa yang membuatnya jadi berharga. Mengingat pada perjuangan-perjuangan yang harus dilakukan, mengingat pada kejadian-kejadian yang telah terjadi di antara kami, mengingat juga tentang janji pernikahan yang telah diikrarkan. Semuanya itu, seharusnya hanya boleh berakhir pada saat maut memisahkan, satu-satunya perpisahan yang tak mungkin bisa kita elakkan....
Diedit oleh Thamrin Mahesarani