Wednesday, November 16, 2011

Krakatau, 125 Tahun Silam

1883. Satu seperempat abad yang silam. Pukul 10.20 WIB, sebuah gunung berapi yang menjulang dari dasar laut Selat Sunda, meledak dengan dahsyat. Orang Barat menyebut gunung itu Krakatoa, dan kita menyebutnya Gunung Krakatau. Gunung yang membentuk Pulau Krakatau itu meledak dengan kekuatan setara 200 megaton TNT, atau setara dengan 13.000 kali bom atom yang telah meluluh-lantakkan Hiroshima, Jepang, pada tahun 1945. Betul-betul ledakan yang amat dahsyat!

Gambaran kedahsyatan ledakan Krakatau itu bisa dilihat dari jumlah korban tewas saat itu, yaitu sebanyak 36.417 orang. Selain itu, sebanyak 165 permukiman hilang dari permukaan bumi, dan 132 desa porak-poranda. Gambaran itu harus dilihat dari jumlah penduduk yang ada pada zaman itu, yang pastinya masih sedikit. Letusan Krakatau juga memicu terjadinya tsunami yang gelombangnya mencapai Hawai, dan juga pantai barat Amerika. Itu bisa dikatakan, tsunaminya hampir mencapai ke seluruh penjuru dunia. Konon, kapal yang berada di Afrika Selatan sampai terhempas oleh tsunami yang bersumber dari ujung Pulau Jawa itu.
Ada lagi rekor yang dibuat Krakatau, yaitu suara ledakannya terdengar hingga ke Perth yang berjarak 3.110 kilometer, dan penduduk Rodrigues, dekat Mauritius, yang berjarak 5.000 kilometer, bisa mendengar “desahan” Krakatau. Itu artinya, sekitar seperdelapan penduduk planet bumi saat itu bisa mendengar suara amuk Krakatau.
Usai ledakan, atmosfir planet bumi sempat gelap tertutup abu vulkanik yang menyebar luas di cakrawala. Sinar mentari tidak mampu menembus tebalnya debu yang menyelimuti angkasa. Lewat ledakannya, Krakatau memuntahkan 25 kilometer kubik batu dan abu ke udara, membuat bumi bagaikan akan kiamat.
44 tahun setelah amuknya, persisnya pada tahun 1927, di bekas daratan Krakatau yang telah lenyap, muncul sebuah gunung baru, yang kemudian dinamakan Anak Krakatau. Dan seperti induknya, Anak Krakatau juga temperamental.