Tuesday, November 1, 2011

Rumah Ekstrim

SEBENARNYA kecenderungan ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Hanya saja, tujuan dan sebabnyalah yang membedakan. Zaman dulu, membangun kastil atau istana atau pemukiman di lokasi ekstrim adalah dengan tujuan untuk keamanan – dari serangan musuh atau binatang buas, tapi bisa juga untuk menghindari bencana alam seperti banjir. Tujuan strategisnya, sudah pasti untuk memperoleh kemudahan dalam melakukan pengawasan terhadap lingkungan di sekeliling – dari serbuan musuh.

Tapi sekarang, tujuan pembangunan pemukiman di lokasi ekstrim, di satu sisi untuk keperluan komersial tinggi – seperti vila-vila di kawasan Puncak, di lain sisi karena ketiadaan tempat lagi selain di tempat yang penuh resiko seperti itu – entah harganya murah, atau menyerobot tanah milik negara atau tak bertuan. Karenanya, pada satu sisi terlihat indah luar biasa, tapi pada sisi yang lain terlihat amat menyedihkan dan memiriskan hati. 
Terlepas dari tujuan dan bagaimana terlihatnya, inilah beberapa pemukiman yang terletak di lokasi ekstrim tersebut.
Fortress at Bonifacio, Corsica, France.
1. Bonifacio (Corsica): 70 meters (230 ft) di atas permukaan Laut Mediterranean
Berada di ujung selatan pulau Corsica, Bonifacio, merupakan daerah pemukiman terpadat di pulau itu. Kota ini berada di benteng dari batu gamping putih di ketinggian 70 meter. Seiring dengan waktu, kota batu gamping ini sedikit demi sedikit tergerus oleh ombak besar laut Mediterania yang langsung menghantam.
Pada masa lalu, tempat ini menjadi tempat perlindungan angkatan laut, namun sekarang telah berubah menjadi kota pelabuhan, tempat persinggahan kapal-kapal pesiar mewah dari seluruh dunia.
Ronda, Andalusia.
2. Ronda (Spanyol): berada di bibir jurang sedalam 100 meter
Lokasinya di pegunungan. Berada diketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut. Kota Ronda masuk dalam provinsi Malaga, Spanyol. "El Tajo", jurang yang memiliki kedalaman 100 meter memisahkan kota tua dan kota baru.
Di bibir jurang berdiri gedung-gedung juga pemukiman penduduk. Ada tiga jembatan tersedia untuk menyeberangi jurang itu, yang dibuat pada masa yang berbeda. Tapi yang pasti, ketiganya merupakan jembatan yang berusia ratusan tahun; dari masa romawi, moorish dan abad ke 18.
Santorini.
3. Santorini (Yunani): Surga di Ketinggian 300 meter
Santorini (Yunani) dijuluki sebagai kota surga karena indahnya. Kota yang terletak 200 km di sebelah selatan Yunani ini, berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut. Digambarkan, kota yang berada di pegunungan tinggi ini sangat indah, ibarat 'surga' karena pemandangannya yang luar biasa.
Pulau Santorini terbentuk dari letusan gunung api yang dahsyat di masa lalu yang menghancurkan sekitarnya. Namun dari letusan dahsyat itu terbentuk kaldera. Tempat itu menjadi sangat indah dan menjadi lokasi wisata yang paling banyak dikunjungi pelancong dari Eropa. Kerlap-kerlip lampu di malam hari membuat nadi kota berdenyut tanpa henti.
Konon, letusan gunung Minoan di Pulau Crete, yang terjadi 3600 tahun lalu, telah menghancurkan seluruh kehidupan dan peradaban di sekitar Minoan, 110 km di sebelah selatan.
Letusan dahsyat itu telah menimbulkan tsunami sangat dahsyat pula dan menyapu seluruh kehidupan di sana dalam sekejap. Dari letusan itu, terbentuklah caldera yang indah. Laguna raksasa, berbentuk persegi empat dengan ukuran sekitar 12 km x 7 km, dikelilingi pegunungan batu setinggi 300 meter pada ketiga sisinya.
4. Castellfolit de la Roca (Spanyol)
Castellfolit de la Roca view.
Castellfolit de la Roca (Spanyol) terletak di atas gunung batu setinggi 50 meter, merupakan kotamadya di Catalonia, Spanyol. Kota ini berada di perbatasan pertemuan sungai Fluvià dan Toronell, yang mengalir di antara gunung batu yang menjadi dasar kota.
Konon gunung batu itu terbentuk dari aliran lahar yang menumpuk hingga 50 meter tingginya dan panjang hampir 1 km. Kota ini merupakan salah satu kota terkecil di provinsi itu.
5. Manarola (Italia) tempat paling berbahaya di Italia
Lokasinya di Liguria, Manarola. Kota ini, konon, merupakan kota tertua yang telah berdiri ribuan tahun lalu, atau sekitar masa romawi berkuasa. Sulit menyebut persisnya kapan. Hanya saja, sebuah dokumen kuno masa Romawi menyebut tentang keberadaan kota ini di mana dulunya merupakan tempat penghasil anggur.
Dan itu masih terlihat hingga sekarang, di mana kebun-kebun anggur masih bertebaran di sepanjang jalan kota. Kalau Anda berkunjung ke sana, Anda bisa menikmati berjalan-jalan melewati kebun anggur. Jalan-jalan di Via dell’Amore (Path of Love) Anda akan menjumpai gedung-degung berwarna cerah yang berada di tepian jurang.