Wednesday, November 2, 2011

Jalan Hidayah

Ini bukan cerita soal agama. Ini adalah kisah bagaimana Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa apa pun yang dikehendaki-Nya pasti bisa terjadi. Jadi, memandang tulisan ini dengan hati adalah lebih bijak daripada dengan ego agama. Silakan disimak. Semoga bermanfaat.
Tulisan ini saya ambil dari Tabloid Alhikmah edisi 32, karya Muhammad Yasin.
Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang Muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Martono pun masuk Katolik, sekadar untuk bisa menikahi Agnes tentunya. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta, Agnes beserta Sang Suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur Kota Kembang itu. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha, dan Rio.
Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, Sang Suami. Selain juga aktif di gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi Properti PT. Telkom Cisanggarung, Bandung.
Karena ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat seiman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar, yang beragama Katolik. Mereka berhasil membeli sebuah rumah yang lalu 'disulap' menjadi tempat ibadah (gereja).
Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, yaitu berhaji.
Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan mengguncang keduanya. Syahdan, saat itu, Rio, Si Bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah Utara Bandung.
Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik itu.
Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, Sang Ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.
Namun Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja.
Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benaknya. Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa. Pah hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.”
Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti dari orang dewasa yang mengerti agama.
Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”
“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.
“Nggak, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.
Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi lantas secara perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.
Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, bahwa setelah adzan Maghrib Rio akan dipanggil Sang Pencipta. Meski tambah terkejut mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup adzan Maghrib berkumandang, Rio menghembuskan nafas terakhirnya.
Ketika jenasah Rio tiba di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu, seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah, saya tidak mau pakai baju jas, mau minta dibalut kain putih aja.” 
Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin disholatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.
Setelah melalui diskusi dan perdebatan di antara keluarga, jenasah Rio kemudian dibalut pakaian, celana, dan sepatu yang serba putih, kemudian disholati. Namun karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenasah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.
Sepeninggal Rio
Sepeninggal anaknya, Agnes sering berdiam diri. Suatu hari, ia mendengar bisikan gaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah. Saat itu Agnes menimpali celoteh Si Bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?” Dan waktu itu, Rio menjawab singkat, “Mamah kan nanti punya sendiri.”
Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.
Singkat cerita, di tanah suci, Mekah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekah ia bertemu Rio. Si Bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia di sini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”
Namun, pesan itu tak lantas membuat Sang Ibunda tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.
Suatu malam, saat tidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”
Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.
“Maunya Tuhan apa sih?” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap, “Astaghfirullah.” 
Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan, tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya.”
Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah, terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”
Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan sholat. Sementara Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.
Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara itu, alangkah kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.
“Lho, kok Mamah sholat?” tanya Martono. 
“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.
Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam
Sejak keputusan Sang Istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Suatu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya, untuk mengikuti lomba adzan yang diadakan panitia agustusan di lingkungan tempat mereka tinggal.
Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.
Di tempat lomba yang diikuti oleh 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.
Hasilnya, suara adzan Adi yang lepas dan merdu, mengalun syahdu, menyentuh dan menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya, hingga bulir-bulir airmata mengalir tak terbendung, membasahi pipi Sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia. Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan peserta-peserta lainnya.
Usai lomba, Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, Sang Suami, tengah melaksanakan sholat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai sholat, Martono langsung meraih Sang Istri dan mendekapnya erat. Sambil berurai airmata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”
Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.
Sebuah perjalanan panjang yang sungguh mengharu-biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Islam yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.

Oleh: Muhammad Yasin (Dari Tabloid Alhikmah edisi 32)